Keterangan Ahli Gunung Api Fakultas Teknik Unsoed Mengenai Erupsi Gunung Anak Krakatau

Ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Unsoed Yogi Adi Prasetya, S.T, M.Sc.

Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Sabtu 5 September 2026 yang memicu dentuman kuat hingga sebaran abu vulkanik yang melintasi Lampung, Banten, Bogor, hingga Bandung memiliki tipe erupsi Hawaiian yang mengeluarkan erupsi Lava Fountain yaitu lava yang keluar seperti air mancur dan biasanya memiliki karakteristik komposisi kimia Basaltik (SiO2 45-50%) dengan kandungan gas tinggi, ungkap ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Unsoed Yogi Adi Prasetya, S.T, M.Sc. saat pemaparan yang dipandu Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Minggu 06 September 2026.

Yogi alumni S2 dari Kyushu University, Fukuoka, Jepang menjelaskan beberapa poin krusial analisis geologi dan mitigasinya:

1. Fenomena Akustik Infrasonik (Dentuman Jarak Jauh). Dentuman yang terdengar hingga wilayah Bandung dan sekitarnya dipicu oleh pelepasan energi shockwave berfrekuensi rendah (infrasound) akibat letupan gas bertekanan tinggi di kawah. Suara ini merambat jauh melalui lapisan atmosfer bawah (inversi suhu) tanpa mengalami peredaman signifikan,

2. Mekanisme Sebaran Abu Vulkanik. Abu Vulkanik adalah material batuan gunungapi, mineral dan gelas vulkanik yang berukuran abu (<2mm) Lontaran material halus yang terangkat tinggi ke atmosfer ditangkap oleh arus angin troposfer (jet stream/prevailing winds). Mengingat abu vulkanik mengandung mikro-kristal silika (vitric ash) yang tajam dan korosif, risiko utamanya adalah gangguan pernapasan (ISPA), kerusakan mesin maskapai penerbangan, serta kontaminasi air terbuka,

3. Evaluasi Stabilitas Tubuh Gunung (Pasca-2018). Pasca-kolaps 2018 yang pernah memicu tsunami, pertumbuhan kembali kerucut Anak Krakatau perlu terus dipantau secara visual dan seismik. Meskipun letusan saat ini belum mengindikasikan ketidakstabilan lereng masif, fluktuasi pasokan magma harus diwaspadai agar tidak terjadi akumulasi tekanan yang berisiko merusak dinding kawah,

4. Rekomendasi Mitigasi

• Masyarakat: Wajib mengenakan masker standar (minimal N95/KN95) saat beraktivitas di luar ruangan dan hindari kontak langsung air hujan abu,

5. Zona Bahaya. Disiplin mematuhi batas aman radius rekomendasi Badan Geologi/PVMBG dan tidak mendekati zona bahaya Selat Sunda.



Penulis     : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto           : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar