Sulistyandari (Ndari)

Taiwan, Kafapet-Unsoed.com. Topan Bavi bergerak mendekati Taiwan tanggal 9 Juli 2026 dan puncaknya tanggal 11 Juli 2026, kemudian mulai meninggalkan Taiwan hari Minggu 12 Juli 2026 menuju arah Cina. Topan Bavi (颱風巴威) meningkatkan kewaspadaan nasional Taiwan setelah badai tropis tersebut membawa ancaman angin ekstrem, hujan lebat, gelombang tinggi, serta risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah, ungkap Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Sulistyandari saat bincang-bincang jarak jauh (Indonesia - Taiwan) dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Kamis 16 Juli 2026.

Posisi Ndari (sapaan akrab Sulistyandari) saat Topan Bavi sedang berada di apartemen karena hujan deras dan angin kencang , sehingga Ndari tetap waspada dan bertahan di dalam apartemen di Douliu, Yunin. Saat ini Ndari sedang revisi disertasi S3 di National Yunlin University of Science and Technology (NYUST), Douliu, Yunlin, Taiwan. Selanjutnya setelah Ndari mendapat ijazah akan segera kembali ke Indonesia.

Pemerintah Taiwan melalui Central Weather Administration (CWA) dan Central Emergency Operation Center (CEOC) meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak badai, khususnya di wilayah utara, timur, kawasan pesisir, serta daerah pegunungan yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.

RTI = Radio Taiwan Internasional dan RTİSİ = Radio Taiwan Internasional Siaran Indonesia

Topan Bavi bergerak mendekati wilayah Taiwan dengan area pengaruh yang cukup luas. Pemerintah memperingatkan masyarakat mengenai potensi dampak berupa banjir lokal, tanah longsor, kerusakan akibat angin kencang, serta gangguan terhadap transportasi laut dan udara.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah Taiwan melakukan evakuasi terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat risiko tinggi. Berdasarkan laporan Central Emergency Operation Center (CEOC), jumlah warga yang telah dievakuasi secara nasional mencapai 2.050 orang hingga pukul 14.00 waktu setempat.

Kabupaten Hualien menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus, terutama di Desa Wanrong dan Kelurahan Fenglin. Sebanyak 194 warga dievakuasi dari kawasan tersebut karena adanya risiko limpasan air dari danau penghalang (barrier lake) di aliran Sungai Wanli.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko banjir bandang apabila hujan ekstrem terjadi di wilayah hulu. Pemerintah daerah bersama Tim Tanggap Darurat terus melakukan pemantauan terhadap daerah pegunungan dan kawasan rawan longsor akibat peningkatan kadar air tanah.

Selain ancaman hujan dan angin, Topan Bavi juga berdampak terhadap kondisi perairan Taiwan. CEOC melaporkan bahwa gelombang laut dengan ketinggian hingga 8,6 meter tercatat di wilayah perairan tenggara Taiwan.

Akibat kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan peringatan gelombang tinggi untuk sejumlah wilayah pesisir, meliputi: wilayah pantai timur Taiwan; wilayah pantai utara Taiwan; Semenanjung Hengchun; Kepulauan Matsu.

Masyarakat, nelayan, dan operator transportasi laut di wilayah terdampak diminta meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas di laut karena gelombang tinggi berpotensi menyebabkan kecelakaan dan kerusakan fasilitas pesisir.

Selain gelombang tinggi, Pemerintah Taiwan juga memperingatkan potensi angin ekstrem akibat penguatan Topan Bavi. Menurut CEOC, hembusan angin dengan kecepatan lebih dari 118 km/jam atau setara level 12 dalam skala angin, diperkirakan dapat terjadi di beberapa wilayah, terutama: Keelung City, Taipei City, New Taipei City, Taoyuan City, Yilan County, dan wilayah kepulauan terluar Taiwan. Angin dengan kekuatan tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan terhadap bangunan ringan, papan reklame, pepohonan, jaringan listrik, serta fasilitas umum lainnya. Masyarakat diminta mengamankan benda-benda di luar ruangan yang berpotensi terbawa angin. Sebagai bentuk mitigasi dan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat, pemerintah daerah Taiwan memberlakukan Kebijakan Libur Topan (颱風假 / Typhoon Day Off).

Kebijakan tersebut dapat diterapkan apabila suatu wilayah diperkirakan berada dalam jalur atau radius pengaruh badai dalam waktu sekitar 4 jam, dengan kondisi cuaca yang berpotensi membahayakan, terutama apabila kecepatan angin rata-rata diperkirakan mencapai di atas level 7 atau terdapat ancaman lain seperti hujan ekstrem dan risiko bencana.

Pada hari Jumat, 10 Juli 2026, sejumlah wilayah telah menghentikan aktivitas kerja dan sekolah, meliputi: Taipei City, New Taipei City, Keelung City, Taoyuan City, Hsinchu City, Hsinchu County, Miaoli County, Yilan County, Hualien County. Sementara itu, wilayah: Taichung City, Nantou County mulai memberlakukan penghentian aktivitas pada Jumat malam pukul 18.00.

Kemudian pada Sabtu, 11 Juli 2026, hampir seluruh kota dan kabupaten di Taiwan menetapkan Libur Topan, yang menyebabkan kantor pemerintahan, sekolah, dan sebagian aktivitas masyarakat dihentikan sementara. Namun, tidak semua wilayah memberlakukan libur topan. Beberapa daerah yang tetap menjalankan aktivitas normal karena diperkirakan memiliki risiko lebih rendah terhadap dampak langsung Topan Bavi antara lain: Taitung County, Penghu County, Kinmen County, dan Yunlin County.

Perbedaan kebijakan tersebut menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana Taiwan menggunakan pendekatan berbasis risiko wilayah, di mana keputusan libur topan ditentukan berdasarkan prediksi jalur badai, intensitas angin, curah hujan, serta kondisi geografis masing-masing daerah.

Meskipun pusat Topan Bavi telah bergerak menjauh dari Taiwan, pemerintah tetap meningkatkan pemantauan terhadap kondisi atmosfer regional. Sisa kelembapan tropis dan pola angin regional masih berpotensi menyebabkan hujan lokal, badai petir, serta peningkatan risiko banjir, terutama di wilayah pegunungan. Selain dampak lanjutan dari Bavi, kawasan Pasifik Barat masih berada dalam periode aktif musim topan. Oleh karena itu, kemungkinan terbentuknya sistem tropis baru tetap menjadi perhatian para ahli meteorologi.

Pemerintah Taiwan mengimbau masyarakat, termasuk warga asing, mahasiswa, dan pekerja internasional, untuk tetap mengikuti informasi resmi dari Central Weather Administration (CWA) dan Central Emergency Operation Center (CEOC), menghindari wilayah berisiko, serta mempersiapkan kemungkinan gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem lanjutan.



Penulis      : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto            : Ir. Alief Einstein, M.Hum