Babak Baru Kedaulatan Protein Bangsa: KUAB dan PTPN III Holding Siapkan Perbenihan Migo Garuda Menuju 1 Juta Hektare


Jakarta, Kafapet-Unsoed.com – Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam perjalanan menuju kedaulatan pangan. Penandatanganan kerja sama strategis antara PT Karya Unggulan Anak Bangsa (KUAB) dan PTPN III Holding pada Jumat, 11 September 2026, menjadi tonggak penting dalam mempersiapkan lahan perbenihan Kedelai Tropis Non-GMO Migo Garuda. Langkah ini menjadi fondasi penyediaan benih untuk mendukung pengembangan kedelai nasional menuju 1 juta hektare.

Kabar membanggakan ini disampaikan langsung oleh Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, MA., M.Si., alumni Fakultas Pertanian Unsoed angkatan 1991, dalam perbincangan dengan Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari Kafapet-Unsoed.com pada Sabtu, 12 September 2026.

"Ini bukan semata persoalan mengganti kedelai impor dengan kedelai produksi dalam negeri. Kedelai adalah persoalan kedaulatan protein bangsa," tegas Prof. Ali Zum Mashar.

Dari kedelai lahir tempe, tahu, susu kedelai, dan berbagai sumber protein masyarakat. Komoditas dan produk turunannya juga berkaitan erat dengan kebutuhan industri serta rantai pakan ternak nasional. Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dari luar negeri masih sangat besar. Bila diperhitungkan secara lebih luas, kebutuhan bahan berbasis kedelai untuk pangan dan pakan ternak disebut dapat mencapai sekitar 8 juta ton per tahun.

"Angka inilah yang menunjukkan bahwa swasembada kedelai bukan sekadar agenda pertanian, melainkan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan, ketahanan protein, dan kedaulatan ekonomi nasional," jelasnya.


Arahan Presiden: Siapkan 1 Juta Hektare

Program ini merupakan tindak lanjut arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai rapat terbatas untuk mempercepat swasembada pangan sebagai program prioritas nasional dan implementasi Asta Cita. Salah satu langkah besarnya adalah arahan untuk mempersiapkan sekitar 1 juta hektare lahan khusus pengembangan kedelai, termasuk pemanfaatan lahan yang berada dalam penguasaan Agrinas Palma.

"Namun satu juta hektare lahan tidak akan berarti tanpa tersedianya benih unggul dalam jumlah besar," ujar Prof. Ali Zum Mashar. Di sinilah kerja sama KUAB dan PTPN III Holding memiliki posisi strategis: membangun hulunya terlebih dahulu, yakni perbenihan.

Empat Varietas Migo Garuda Merah Putih

Fondasi teknologi tersebut telah dipersiapkan melalui perjalanan riset panjang yang akhirnya menghasilkan empat varietas unggul Kedelai Tropis Non-GMO Migo Garuda Merah Putih (GMP01, GMP02, Sora01, Sora02) dengan produktivitas tinggi berpotensi di atas 4,5 ton per hektare. Pada Juni 2026, varietas-varietas ini telah memperoleh pelepasan resmi pemerintah melalui Kementerian Pertanian.

Paket teknologi pengembangan untuk menjamin produktivitas tinggi berkelanjutan juga sudah disiapkan, yaitu Teknologi Mikroba Google "Migo" , sebuah teknologi bioperforasi yang telah mendapatkan pengakuan paten internasional maupun nasional sejak tahun 2000 untuk memproduktifkan lahan kritis menjadi subur kembali.

"Dengan pelepasan tersebut, perjuangan memasuki tahapan yang lebih besar: dari riset menjadi industri perbenihan, dari perbenihan menuju satu juta hektare, dan dari satu juta hektare menuju swasembada," ungkap Prof. Ali Zum Mashar.


Paradigma Baru Swasembada

Kerja sama KUAB–PTPN III Holding diharapkan menjadi pintu masuk pembangunan sistem multiplikasi benih secara masif, sehingga ketika perluasan areal kedelai dilaksanakan, Indonesia tidak justru menghadapi persoalan kekurangan benih.

Inilah paradigma baru swasembada:

* Kita tidak memulai dari impor. Kita memulai dari benih sendiri.

* Kita tidak hanya mengejar produksi. Kita membangun kedaulatan protein bangsa.

Penandatanganan yang berlangsung pada Jumat, 11 September 2026 tersebut menjadi simbol pertemuan antara inovasi anak bangsa, kekuatan lahan BUMN, kebijakan pemerintah, dan kepentingan strategis nasional.

Target akhirnya jauh lebih besar daripada sekadar satu juta hektare kedelai. Indonesia ingin memastikan bahwa protein bagi ratusan juta rakyatnya tidak selamanya bergantung kepada negara lain.

"Dari 1 juta hektare menuju swasembada. Dari benih Indonesia menuju kedaulatan protein bangsa."

Migo Garuda: Benih Indonesia, Teknologi Indonesia, Protein untuk Indonesia

Penemuan empat varietas unggul ini merupakan buah karya Prof. Ali Zum Mashar. Ia menilai istilah "Kedaulatan Protein Bangsa" sangat kuat untuk dijadikan branding utama gerakan ini. Bahkan secara komunikasi publik, narasinya dapat dinaikkan dari sekadar "Swasembada Kedelai" menjadi "Gerakan 1 Juta Hektare Kedelai Migo Garuda untuk Kedaulatan Protein Bangsa."

Dengan semangat inovasi dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia semakin dekat menuju kemandirian pangan, khususnya dalam penyediaan protein hewani dan nabati bagi seluruh rakyat. Peran alumni Unsoed seperti Prof. Ali Zum Mashar menjadi bukti nyata bahwa kontribusi akademisi dan praktisi dapat menggerakkan perubahan besar bagi negeri.

#KedaulatanProteinBangsa #MigoGaruda #SwasembadaKedelai #KUAB #PTPNIII #AlumniUnsoed #BersyukurBanggaSolid



Penulis     : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Editor       : Roni Fadilah

Foto           : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar