Pembodohan: Indonesia Tidak Bisa Menanam Kedelai

Jakarta, Kafapet-Unsoed.com – Pembodohan: Indonesia Tidak Bisa Menanam Kedelai Ungkapan tersebut secara tegas dikatakan Prof Dr Ir Ali Zum Mashar ketika ditemui kafapetunsoed.com di sela penerimaan penghargaan, Jumat, 21 Agustus 2026. Malam itu bersama enam orang lainnya Prof Ali menerima Svarna Bhumi Award 2026. Penghargaan ini diberikan oleh PT Pupuk Indonesia yang didukung benihbaik.com dan program Kick Andy-Metro TV. Penghargaan diberikan kepada orang-orang yang memiliki andil besar dalam usaha membangun ketahanan pangan di Tanah Air. Mereka disebut sebagai “Pahlawan Pangan”.

Prof Dr Ali Zum Mashar

Prof Dr Ali hadir mengenakan batik berwarna keemasan lengan panjang. Ketika maju ke podium ia membawa beberapa ikat tanaman kedelai kering. Dalam sambutan tersebut Prof Ali menyampaikan beberapa hal yang ia telah kerjakan yang menghasilkan beberapa varian kedelai.

Menurut Prof Ali, varian kedelai yang ia temukan dapat tumbuh di aneka kondisi lahan dan iklim di tanah air. Dalam uji coba penanaman, varian kedelai Prof Ali menghasilkan lebih dari empat ton per hektare. “Bahkan BPS mencatat kemarin kedelai saya menghasilkan 5,3 ton per hektare,” kata Prof Ali.

Ketika berkunjung ke China, Prof Ali melihat bahwa varietas kedelai yang ia hasilkan lebih baik dari apa yang dikembangkan di negeri tersebut.

Ia mengaku sudah memulai meneliti varietas kedelai sejak 25 tahun silam. Prof Ali sempat terbentur biaya untuk penelitiannya. “Saya menjual cincin kawin untuk biaya penelitian,” ungkapnya.

“Saya percaya pengorbanan itu akan berarti terutama bagi para petani. Mereka dapat bahagia,” tandasnya.

Selepas acara di Grand Studio Metro TV (21/8) tersebut, Prof Ali membagikan beberapa botol susu kedelai. “Ini susu kedelai yang tanpa GMO,” ujarnya. Kedelai GMO atau Genetically Modified Organism adalah kedelai yang secara genetik telah melalui rekayasa. Sebagian besar produk kedelai di Indonesia, seperti yang diolah untuk tempe, merupakan kedelai GMO impor.

Persis pada titik itulah Prof Ali menegaskan bahwa di varian kedelai yang ia hasilkan mampu tumbuh di tanah tropis. Dengan produksi yang tinggi, ia meyakini bahwa kedelai hasil budidayanya akan mampu menggantikan kedelai impor GMO.

Prof Ali bersama keluarga dan Pastor Carolus OMI
yang juga menerima penghargaan yang sama.

Lahan Gambut

Pada tahun 1997 Prof Ali menemani petani di lahan gambut di Kalimantan. Ia melihat bagaimana susahnya para petani menanam dan merawat tanaman mereka di lahan gambut. Prof Ali melakukan penelitian serius hingga menghasilkan pupuk yang didukung 18 mikroba. Pupuk tersebut dapat membuat lahan gambut dan lahan pirit bekas tambang menjadi subur.

Kini Prof Ali sedang merelease benih padi varietas khusus yang ia hasilkan dari penelitian. Benih padi ini dapat dipanen dalam waktu dua bulan. Umumnya padi ditanam dalam waktu setidaknya tiga bulan.

Ia berharap penghargaan yang ia dapatkan bisa menjadi pemantik semangat para mahasiswa di almamaternya, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. “Ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa adik-adik semua. Bila kita tekun, ilmu kita dapat berguna bagi masyarakat,” pungkas ilmuwan kelahiran 1972 tersebut.

Prof Ali lulus dari SMA Negeri 1 Kudus tahun 1991. Ia menyelesaikan S1 di Fak Pertanian Unsoed tahun 1997. Program S2 dan S3 ia jalani di IPB. Prof Ali menerima Anugerah MAPORINA AWARD, 2021, ICMI AWARD, 2021, MAI AWARDS PERTAMA, 2013, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa, 2009, juga penerima Anugerah Kalyanakretya Utama, 2004.

Malam penghargaan Pahlawan Pangan Svarna Bhumi Award 2026 disiarkan Metro TV pada 30 Agustus 2026.

 

Penulis      : Sutriyono

Foto            : Sutriyono

Posting Komentar

0 Komentar