Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com – Berita tentang “Super Flu” muncul dari berbagai daerah. Di tengah kabar itu, para orang tua mungkin bertanya: bila anak Demam dan Batuk, apakah ia terkena “Super Flu”?, Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dari gejala. Bahkan, hasil pemeriksaan yang menyatakan seseorang positif influenza A belum tentu menunjukkan virus yang sedang ramai diberitakan. “Super flu” adalah sebutan populer untuk influenza A (H3N2) subclade K. Ini merupakan bagian dari influenza musiman, bukan jenis penyakit baru. Hingga kini belum ada bukti bahwa subclade K secara umum menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan influenza musiman lainnya. Meski demikian, influenza tetap dapat menimbulkan komplikasi pada orang yang rentan, ungkap Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran (FK) Unsoed dr.Nia Krisniawati,Sp.,MK.
saat pemaparan yang dipandu Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Jum'at 25 September 2026.
Selanjutnya dr. Nia yang sedang tugas belajar S3 di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjelaskan bahwa menurut laporan Kementerian Kesehatan per 19 September 2026, terdapat 184 kasus subclade K yang terdeteksi di 20 provinsi. Angka itu merupakan akumulasi sejak 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026, bukan jumlah kasus baru dalam beberapa hari. Khusus pada minggu 1–36 tahun 2026, Kemenkes mencatat 22 kasus subclade K. Laporan yang sama menunjukkan bahwa pada minggu ke-36, sebanyak 86 dari 185 spesimen yang diperiksa positif influenza. Rinciannya: 76 influenza A(H1N1)pdm09, delapan influenza A(H3N2), dan dua influenza B. Jadi, kenaikan hasil positif influenza pada kelompok spesimen yang diperiksa saat itu tidak dapat langsung disebut sebagai lonjakan “Super Flu”. Delapan hasil A(H3N2) tersebut pun tidak otomatis berarti subclade K.
Angka-angka itu menurut dr. Nia berasal dari kegiatan pemantauan dan pemeriksaan spesimen. Karena itu, hasilnya membantu melihat pola virus yang terdeteksi, tetapi tidak dapat diartikan sebagai jumlah seluruh orang yang sedang flu di Indonesia. Pemeriksaan influenza menjawab pertanyaan pada tingkat yang berbeda. Suatu tes dapat menunjukkan influenza A atau B. Pemeriksaan molekuler tertentu dapat mengenali subtipe, misalnya A(H1N1) atau A(H3N2). Penentuan kelompok genetik yang lebih rinci, seperti subclade K, biasanya dilakukan melalui pemeriksaan genetik lebih lanjut dalam kegiatan surveilans. Artinya, “positif influenza A”, “positif A(H3N2)”, dan “teridentifikasi subclade K” bukan hasil yang sama. Mengetahui perbedaan ini membantu kita membaca berita tanpa menganggap setiap kasus demam dan batuk sebagai “Super Flu”, ujar dr. Nia yang juga anggota Tim Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI).
1. Yang perlu dilakukan di rumah
Demam yang muncul mendadak, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas dapat terjadi pada influenza. Namun, gejala serupa juga dapat disebabkan virus pernapasan lain. Kebanyakan penderita membaik dengan istirahat dan cukup minum. Saat sakit, tinggal di rumah bila memungkinkan, gunakan masker bila harus dekat orang lain, tutup batuk dan bersin, serta cuci tangan secara teratur.
dr. Nia mengatakan bahwa anak kecil, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit kronis atau daya tahan tubuh lemah perlu mendapat perhatian lebih. Segera cari pertolongan medis bila muncul sesak atau napas cepat, anak sulit minum, sangat lemas atau sulit dibangunkan, atau demam dan batuk yang sempat membaik kemudian memburuk. Kelompok berisiko sebaiknya berkonsultasi lebih awal agar dokter dapat menilai kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan antivirus.
2. Antibiotik tidak mengobati virus influenza
Jangan meminumnya sendiri setiap kali demam disertai batuk. Untuk pencegahan, vaksin influenza tahunan tetap bermanfaat, terutama bagi kelompok yang berisiko mengalami komplikasi. Menjaga aliran udara di dalam ruangan juga membantu mengurangi penularan.
dr. Nia menambahkan bahwa kita perlu waspada terhadap influenza tanpa terjebak pada istilah yang menakutkan. Baca angka kasus sesuai periodenya, cegah penularan saat sakit, dan kenali tanda bahaya. Itulah langkah yang lebih berguna bagi keluarga daripada menebak-nebak apakah setiap flu adalah “Super Flu”.
Penulis : Ir. Alief Einstein, M.Hum
Editor : Fajar Hidayat
Foto : Ir. Alief Einstein, M.Hum


0 Komentar
Jika kesulitan posting komentar via hp harap menggunakan komputer