Tevi Melviana Paparkan Strategi Hadapi Gejolak Harga Pakan di ILDEX 2026


Jakarta, Kafapet-Unsoed.com – Industri pakan ternak nasional tengah menghadapi tekanan yang tidak ringan. Berbagai faktor eksternal dan internal saling bertaut, menciptakan gelombang ketidakpastian yang berdampak langsung pada peternak rakyat. Menjawab tantangan itu, seminar bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" digelar dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Kamis (17/9/2026), di Jakarta.

Salah satu narasumber yang tampil adalah Tevi Melviana, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Menariknya, Tevi bukan hanya pemimpin asosiasi pakan terbesar di Indonesia, tetapi juga sedang menempuh pendidikan Program Doktor Ilmu Peternakan di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kombinasi peran sebagai akademisi dan praktisi industri menjadikan paparannya kaya akan data sekaligus solusi aplikatif.


GPMT: 50 Perusahaan Pakan di 10 Provinsi

Dalam pemaparannya, Tevi menjelaskan bahwa GPMT merupakan organisasi nirlaba yang kini beranggotakan 50 perusahaan pakan yang tersebar di 10 provinsi. Ia mengungkapkan bahwa 85% biaya produksi pakan berasal dari bahan baku, sementara hanya 15% dari teknologi. Angka ini menunjukkan bahwa celah efisiensi masih terbuka lebar, terutama dalam pengelolaan bahan baku.

"Ketergantungan pada bahan baku impor dan fluktuasi harga menjadi titik lemah yang harus segera kita carikan solusinya bersama," ujar Tevi di hadapan peserta seminar.

Tiga Faktor Eksternal Penekan Biaya

Tevi mengidentifikasi tiga faktor eksternal utama yang menekan biaya produksi pakan:

1. Ketersediaan bahan baku – Harga jagung terus naik sejak April hingga Juni 2026.

2. Kebijakan pemerintah – Munculnya regulasi baru seperti Permendag No. 11/2026 yang menempatkan jagung dan bungkil kedelai dalam kategori larangan terbatas (lartas).

3. Nilai tukar rupiah – Rupiah melemah 8,39% dalam 12 bulan terakhir hingga menyentuh Rp18.279/USD pada Juli 2026.

"Ketiga faktor ini bukan hanya angka di atas kertas. Dampaknya nyata sampai ke peternak," tegasnya.

Produksi Tumbuh, Namun Idle Capacity Masih 30%

Di sisi produksi, industri pakan agro nasional mencatat pertumbuhan 10,38% pada 2025 menjadi 20,3 juta ton, dengan 95% di antaranya adalah pakan unggas. Meski demikian, masih terdapat idle capacity sebesar 30% dari total kapasitas terpasang 30,5 juta ton per tahun. Menurut Tevi, kapasitas menganggur ini justru bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produksi telur dan daging ayam nasional.

"Modal besar kita sudah ada. Yang diperlukan adalah strategi pemanfaatan yang tepat," tambahnya.

Tantangan 2026: Harga Asam Amino hingga Kemasan Plastik

Tevi juga membeberkan sejumlah tantangan berat yang membayangi industri pakan sepanjang 2026. Selain ketergantungan penuh pada impor jagung dan bungkil kedelai, harga asam amino dunia naik dua kali lipat. Belum lagi kenaikan harga kemasan plastik dan bahan baku impor lainnya akibat pelemahan rupiah.

Dampak dari semua ini menjalar ke sektor peternakan. Pada Juni 2026, harga livebird dan DOC broiler sempat anjlok tajam, masing-masing ke Rp14.700/kg dan Rp3.500/ekor. Kondisi ini tentu sangat memberatkan peternak, terutama yang berskala kecil dan menengah.

Mitigasi: Stok Strategis hingga Protein Alternatif

Sebagai langkah mitigasi, Tevi menyebut beberapa praktik yang lazim dilakukan oleh feedmill, antara lain:

· Stok bahan baku strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga.

· Pemanfaatan bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.

· Kemitraan dengan petani jagung guna memastikan pasokan yang berkelanjutan.

· Reformulasi pakan agar tetap efisien tanpa mengorbankan kualitas.

GPMT juga mendorong eksplorasi protein alternatif seperti kacang koro pedang dan maggot BSF (Black Soldier Fly). Namun, Tevi menekankan bahwa alternatif tersebut harus memenuhi tiga syarat utama: kualitas stabil, pasokan pasti, dan harga kompetitif.

Peran Strategis Industri Pakan

Menutup paparannya, Tevi menegaskan bahwa industri pakan menyumbang hingga 65% dari kebutuhan protein hewani nasional. Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan dukungan kebijakan yang berpihak, mulai dari stabilitas produksi jagung hingga infrastruktur logistik yang memadai.

"Industri pakan adalah tulang punggung protein bangsa. Jika pakan terganggu, maka ketahanan pangan kita juga terancam," ujarnya.

Meski situasi saat ini penuh tantangan, Tevi tetap optimistis. Ia menutup presentasinya dengan kalimat yang menggugah:

"Hari ini sulit, besok akan lebih sulit, tapi lusa akan berwarna."

Dedikasi untuk Almamater

Tevi Melviana merupakan salah satu alumni terbaik Program Magister Peternakan Fapet Unsoed yang kini melanjutkan studi doktoral di kampus yang sama. Kiprahnya di GPMT dan keaktifannya sebagai pembicara di berbagai forum nasional menjadi bukti bahwa alumni Fapet Unsoed mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat tertinggi industri peternakan Indonesia.

#TeviMelviana #GPMT #ILDEX2026 #FapetUnsoed #IndustriPakan #PeternakanIndonesia #BersyukurBanggaSolid



Penulis     : Fajar Hidayat

Editor       : Roni Fadilah

Foto           : Tevi

Posting Komentar

0 Komentar