Wujudkan Smart Village Tangguh Bencana : Unsoed Serahkan Alat Deteksi Dini Banjir dan Bibit Konservasi di Desa Serang


Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com – Tim Kesiagaan Bencana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berkomitmen penuh dalam mewujudkan ketangguhan masyarakat desa berbasis teknologi dan lingkungan. Komitmen ini diwujudkan melalui rangkaian program pengembangan Smart Village Tangguh Bencana di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Puncak dari rangkaian program pengabdian masyarakat ini ditandai dengan penyerahan alat Deteksi Dini Banjir dan penanaman Bibit Alpukat yang dilaksanakan pada hari Jumat, 18 September 2026, ungkap Dosen Fakultas Pertanian, Unsoed Dr. Dyah Susanti, SP., MP. saat pemaparan yang dipandu Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Minggu 20 September 2026.

Bantuan ini menurut Dr. Dyah ditujukan untuk konservasi lereng lahan-lahan pertanian miring di Desa Serang yang rawan longsor saat terjadi banjir. Serah terima bantuan dilakukan langsung oleh Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dr. Dyah didampingi oleh anggota tim Dr. Zaroh Irayani, SSi., MSi., serta sejumlah mahasiswa. Bantuan diterima oleh Kepala Dusun 3 Suroso yang didampingi oleh pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Juliyan dan Pemuda Tangguh Bencana Ferdian sebagai perwakilan Pemerintah Desa Serang. Kepala Dusun 3 Desa Serang Suroso menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas bantuan ini. Menurutnya, alat Deteksi Dini dan pohon konservasi ini sangat diperlukan oleh masyarakat setempat untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir bandang dan longsor, sekaligus meminimalkan risiko adanya korban jiwa jika sewaktu-waktu bencana serupa kembali melanda.


1. Alpukat dan Kopi

Ketua Tim Pelaksana Program, Dr. Dyah menekankan pentingnya tindak lanjut dan kesiapan komunitas lokal dalam pemeliharaan serta pemanfaatan fasilitas yang telah diserahkan. "Kesungguhan masyarakat dalam memelihara bibit Alpukat dan Kopi yang diberikan dalam program pengabdian ini diharapkan tidak hanya mendukung konservasi lahan saja. Lebih dari itu, program ini dirancang agar mampu menopang perekonomian masyarakat Desa Serang secara berkelanjutan melalui penjualan buah Alpukat dan Kopi yang dihasilkan nantinya," ujar Dr. Dyah.

2. Rangkaian Panjang Pendampingan Sejak Awal Tahun

Program pendampingan Desa Tangguh Bencana ini merupakan kegiatan komprehensif yang telah diinisiasi sejak awal tahun 2026. Rangkaian kegiatan diawali pada 25 April 2026 melalui Pemeriksaan Kesehatan dan Diseminasi Ipteks tentang Resiliensi Bencana Berbasis Komunitas oleh Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si. Pada kesempatan yang sama, Prof.Dr. Dwi Sarwani Sri Rejeki, S.KM.,M.Kes.(Epid) memberikan edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Saat Bencana, disusul pelatihan Bantuan Hidup Dasar oleh Annas Sumeru, S.Kep.,Ns.,M.Kep., Sp.Kep. MB. Kegiatan awal ini turut bekerja sama dengan Reka Pramuka Peduli Racana Soedirman untuk membekali masyarakat Desa Serang menghadapi kondisi darurat. Upaya penguatan pengetahuan, keterampilan, konservasi lahan, serta mitigasi bencana kemudian dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 16 Mei 2026. FGD tersebut secara khusus membedah permasalahan mitigasi penanganan lahan pertanian di area lereng yang memiliki tingkat kemiringan curam, sehingga berisiko tinggi memicu erosi saat banjir.Dalam diskusi tersebut, pakar pertanian Unsoed, Dr.Ir.M. Rif'an, MP. dan Ir. Purwandaru Widyasunu, MSi., menjelaskan krusialnya upaya konservasi melalui pengelolaan sumber daya lahan. Beberapa teknik yang disarankan meliputi penerapan terasering, penanaman tanaman penutup lahan, serta penanaman vegetasi pinggir guna mendukung sistem pertanian lahan lereng yang berkelanjutan. Di sisi teknologi mitigasi, Dr. Zaroh Irayani, SSi., MSi. bersama pemuda tanggap bencana desa setempat merumuskan kebutuhan alat deteksi dini berbasis curah hujan serta menyusun rencana penerapannya di lokasi terdampak. Tim kemudian bergerak melakukan survei dan asesmen kondisi lahan lereng pada 20 Juni 2026 guna menentukan teknologi konservasi yang paling tepat pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.Berdasarkan hasil asesmen, Tim merekomendasikan penanaman vegetasi berakar dalam untuk memperkuat struktur tanah lereng. Guna membangun motivasi berkelanjutan, pemilihan komoditas tidak hanya berbasis fungsi ekologis, tetapi juga nilai ekonomi. Selain Alpukat dan Kopi, tanaman pinggir seperti Rumput Gajah dan Odot turut ditanam. Tanaman ini berfungsi ganda: menahan laju erosi tanah sekaligus menyediakan sumber pakan hijau melimpah untuk ternak peliharaan warga. Melalui integrasi antara kesiapsiagaan teknologi, pemulihan lingkungan berbasis ekonomi, dan penguatan kapasitas komunitas ini, Tim Unsoed berharap tradisi menjaga lingkungan di Desa Serang dapat terus terjaga dan tumbuh secara mandiri serta berkelanjutan, jelas Dr. Dyah.



Penulis     : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto          : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar