Sharing Pengalaman Disela sela Kajian ke 70 di Sukabumi


Sukabumi, Kafapet-unsoed.com. Hari Minggu (15/10) di kediaman Bagus Pekik Kafapet angkatan 88 dan Wakil Ketua ISPI Wilayah Jawa Barat di Sukabumi. Kajian Kafapet Unsoed ke 70 dilaksanakan.

Kajian kali ini, ada yang berbeda dari sebelumnya. Di kesempatan kajian ke 70 yang dipandu oleh Nadam Subekti, justru banyak berbagi pengalaman dari para alumni.

Sambutan tuan rumah Bagus Pekik

Bagus Pekik sharing tentang pengalaman perjalanan hidup yang telah dilaluinya, khususnya tentang pengalaman menjadi calon legislatif DPR RI yang diusung oleh salah satu Partai besar di Indonesia. Hal yang paling mendasar dari pengalaman tersebut, setiap melangkah apa yang telah kita putuskan, harus siap segalanya, baik jiwa maupun fisik. Serta kita jangan sepenuhnya energi ditumpahkan ke putusan yang telah diambil, karena apa yang terjadi di depan bisa jadi jauh dari harapan kita.

Teguh Sudaryatno mengajak kepada alumni muda, yang lebih dikenal dengan sebutan generasi melenial untuk aktif gabung dengan Keluarga Alumni Fapet Unsoed. Di wilayah Sukabumi Cianjur (Suci) alumni dari Generasi Melenial cukup banyak, tetapi sayang setiap ada kegiatan tidak pernah aktif. Teguh Sudaryatno memberikan tantangan kapan generasi bisa kumpul, dan akan disediakan makan gratis.


Suko Rianto angkatan 83 memberikan sharing tentang pengalaman gabung di kajian Kafapet Unsoed. "Dulu saya kira kajian kafapet unsoed isinya berat, tetapi setelah ikut ternyata materinya yang ringan ringan dan membahas permasalahan dalam kehidupan sehari hari, plus kita bisa menjalin tali silaturahmi sesama alumni", ujar Suko.

Kajian ke 70 dibawakan oleh Ustadz Prof Fajar Laksana (Ketua MUI Sukabumi). Kajian kali ini membahas tentang makna dari kalimat tauhid yaitu Laa ilaaha illaallah (tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah). 

Kalimat ini berarti menolak hak peribadahan kepada segala sesuatu selain Allah Ta'ala dan menetapkannya semata-mata hanya untuk Allah Ta'ala. Bahkan tauhid ini jilka diucapkan sebelum mati, maka surga jaminannya.

Tausyiah Ustadz Fajar Laksana

Dengan kalimat tauhid inilah Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk, mengutus para rasul, diturunkannya kitab-kitab suci, ditetapkannya syariat, hingga terpisahnya manusia kelak menjadi penghuni surga dan penghuni neraka.

Ustad Fajar mengingatkan kembali bahwa kita harus terus dzikir dengan menyebutkan kalimat tauhid Laa ilaaha Illaallah sampai ajal menjemput kita.

Sesi tanya jawab berlangsung, beberapa pertanyaan muncul, salah satunya dari Suko yang menanyakan banyak orang yg berdzikir tapi sholat dan amalan lainnya tidak baik, apakah tetap masuk syurga? Dan Apakah dzikir harus di jaharkan?

Prof Fajar menjelaskan ada hadist "Barangsiapa yang ucapan terakhir dlm hidupnya Lailahailallah akan masuk syurga". Inti ibadah adalah Dzikir. Sholat, Baca Alquran, Doa itu dzikir, tetapi dzikir yg paling Afdol adalah kalimat Lailahailallah. 

Dzikir Jahar, untuk membiasakan lisan kita, agar dzikir itu masuk dlm hati. Tetapi bila kita tidak mau menjaharkan tidak apa2, asal hati kita tetap berdzikir. 

Kemudian pertanyaan selanjutnya muncul dari Saepul yang menanyakan "Kalau mentalqin orang yg sakaratul maut, jika kalimat Lailahailallah terlalu panjang, bolehkah hanya dengan lafal Allah?


Prof Fajar menjawab "boleh jika kita khawatir kalimat Lailahailallah tidak akan sampai selesai, seperti orang yg sudah koma, tetapi bagi yg biasa tetap dipandu kalimat Lailahailallah".

Akhir kajian ditutup dengan sholat berjamaah, makan siang dengan sajian menu yang luar biasa dan diskusi ringan tentang segala hal.



Penulis      : Nadam dan Roni

Editor        : Fajar

Foto           : Dokumen Kafapet DIJ

Posting Komentar

0 Komentar