Closed House Operation Management

Kandang ayam berdasarkan tipe ventilasinya secara garis besar dibagi dua yaitu kandang dengan ventilasi yang tidak terkontrol (uncontrolled ventilation system) dan kandang dengan ventilasi terkontrol (controlled ventilation system disebut juga dengan istilah Closed House)

Ir. Roni Fadilah, S.E
"Prinsip dasar kandang tertutup (Closed house) yaitu membuang gas beracun dan panas yang diproduksi dari tubuh dan kotoran ayam, dan digantikan dengan udara segar", paparan Roni Fadilah yang disampaikan dalam Acara Seminar tentang Manajemen Pengoperasian Kandang Tertutup. Paparan yang diberikan oleh Alumni Fapet Unsoed pada seminar tentang "Manajemen Pengoperasian Kandang Tertutup (Closed House Operation Management)" di PT New Hope Indonesia seluruh cabang Indonesia via zoom meeting.

Seminar yang diperuntukan untuk Team Technical Services PT New Hope Indonesia seluruh cabang di Indonesia beserta para praktisi peternakan dan Team Kemitraan, pada hari Jum'at, tanggal 18 Desember 2020 secara on line via zoom meeting.

"Banyak kelebihan kandang tertutup dibandingkan dengan kandang konvensional (terbuka), diantaranya tingkat kepadatan bertambah, performa ayam meningkat, lebih efisien dalam menekan harga pokok produksi, biosecurity terkontrol, serta bisa mengeliminir pengaruh fakltor lingkungan, disamping ada kelemahannya seperti biaya investasi awal tinggi serta dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil", ujar Roni.

Kunci utama pengoperasian kandang tertutup (Closed house/CH) yaitu bagaimana caranya bisa menjaga keseimbangan kondisi yang ada di dalam kandang (ayam, kotoran, gas  beracun, angin) dengan kondisi luar kandang (masuk dan keluarnya udara, panas dan sinar matahari, hujan,dll) dengan cara pengaturan pengoperasian kipas exhaust sehingga udara yang masuk ke dalam kandang melalui PAD (Celldeck) menjadi 'udara yang segar dan nyaman' untuk ayam. Kondisi nyaman ini diistilahkan dengan "Comfort Zone" yaitu suatu kondisi yang membuat ayam bebas melakukan aktifitas tanpa adanya cekaman stres, sehingga bisa tumbuh dengan optimum.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan di kandang CH, diantaranya :

A. Dimensi kandang

Mengetahui Luas penampang kandang (Lebar x Tinggi, satuan meter persegi, m²) dan Volume Kandang (Lebar x Tinggi x Panjang, satuan meter kubik, m³) langkah awal dasar untuk memulai perhitungan tentang kandang CH

Contoh, kandang dengan Lebar 14 meter, tinggi 2,5 meter dan panjang 120 meter, maka Luas Penampang = 14 m x 2,5 m diperoleh 35 m², Volume Kandang = Lebar 14 m x tinggi 2 m x panjang 120 m diperoleh 4.200 m³


B. Menghitung Kapasitas Kipas (Exhaust Fan)

Langkah berikutnya yaitu mengetahui Kapasitas Kipas Total (m³/jam) yang diperlukan dalam kandang CH. Kapasitas Kipas Total bisa diketahui dengan cara terlebih dahulu berapa kecepatan angin yang diperlukan saat ayam akan dipanen, umumnya kecepatan angin jika ayam di panen di atas 1,6 kg kisaran 2 -3 meter per second (s,detik). Contoh, Kecepatan angin yang diperlukan 2,5 m/s, maka kapasitas kipas total bisa dihitung dengan cara Luas Penampang kandang (m²) x kecepatan angin (m/s) x 3.600 second (s). Bisa juga kapasitas kipas dihitung dalam satuan Cubic Feet Minute (CFM)

Contoh, dari hitungan di atas, luas penampang = 35 m², kecepatan angin 2,5 m/s, maka kapasitas kipas = 35 m² x 2,5 m/s x 3.600 s, diperoleh 315.000 m³/jam (185.409  cfm)

C. Kebutuhan Udara Minimum (K.U.M)

Strain ayam broiler modern yang sekarang beredar memiliki kebutuhan udara minimum berbeda beda, tetapi umumnya dikisaran 8 m³ per Kg Bobot Badan per Jam (8 m³/kg bb/jam)

Contoh, populasi ayam 10.000 ekor, rataan berat 2,1 kg/ekor, maka Kebutuhan Udara minimum = 10.000 ekor x 2,1 kg/ekor x 8 m³/kg bb/jam, diperoleh angka kebutuhan udara minimum 168.000 m³/jam (98.885 cfm)


D. Menghitung Kebutuhan Jumlah Kipas (Exhaust Fan)

Menghitung kebutuhan jumlah kipas yang dioerlukan di kandang CH bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1. Jumlah kipas = Kapasitas kipas total yang diperlukan dibagi dengan kapasitas ukuran kipas yang akan dipakai.

Contoh, kipas yang akan dipakai ukuran 52", kapasitasnya 24.500 cfm, dari data di atas, 
Maka dapat dihitung Jumlah Kipas yang diperlukan = 185.409 cfm dibagi 24.500 diperoleh 7,4 kipas, dibulatkan menjadi 8 kipas ukuran 52".

2. Jumlah kipas yang diperlukan dapat dihitung juga dengan rumus
 Jumlah kipas = panjang kandang (m) x Lebar kandang (m) x kepadatan (ekor/m²) x 4 cfm x Bobot Panen (kg) dibagi Kapasitas kipas dengan ukuran kipas yang dipakai.

Contoh. Ukuran kandang data di atas, kepadatan 12 m², rencana panen 2,1 kg, kipas yg dipakai ukuran 52" dgn kapasitas kipas 24.500 cfm. 
Jumlah kipas = 120 m x 14 m x 12 ekor x 4 cfm x 2,1 kg dibagi 24.500, diperoleh angka 8 buah kipas ukuran 52"

E. Pengaturan Kecepatan Angin

Pengaturan kecepatan angin di dalam kandang tergantung umur dan berat ayam. Bisa dilihat di  Tabel. Setiap pergerakan angin pada kecepatan tertentu akan memberikan perbedaan antara suhu aktual yang dibaca di Termometer dengan suhu efektif yang dirasakan ayam, hal ini karena ada efek suhu dingin (Wind Chill Effect)

Tabel Max Air Speed across the bird based on ages
F. Setting Pengoperasian Kipas

Prinsif setting pengoperasian kipas yaitu bagaimana caranya mengatur kecepatan angin di dalam kandang harus disesuaikan dengan (1) suhu yang diperlukan ayam. (2) memenuhi kebutuhan udara minimum yang diperlukan ayam, dengan memperhatikan adanya efek angin dingin (wind chill effect).


G. Pergantian Udara (Air Exchanged Rate)

Air Exchanged Rate (AER) adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk memindahkan seluruh volume udara di dalam kandang dalam sekali pindah. AER bisa dihitung dengan rumus :
AER = Volume kandang (m³) dibagi kapasitas kipas total (m³/jam).

Contoh, dari data di atas dapat dihitung AER = 4.200 m² dibagi 315.000 m³/jam, diperoleh air exchanged ratenya 0,0233 jam atau 48 detik.

H. Menghitung Luas "In Let" yang diperlukan

In Let adalah lubang tempat masuknya udara ke dalam kandang CH. Luas In Let yang diperlukan bisa dihitung dengan rumus.

Luas In Let = kapasitas kipas total (m³/3.600 s) dibagi kecepatan angin (m/s)

Contoh, dari data di atas, kapasitas Total Kipas 315.000 m³/jam dibuat satuan detik menjadi 315.000 m³/3600 second dibagi kecepatan angin 2,5 m/s, diperoleh luas In Let sebesar 35 m².
Jika tinggi penampang in let dibuat 1,8 meter, maka panjang inlet sekitar 19,4 meter.

Selain faktor di atas, di kandang CH perlu diperhatikan juga adanya udara yang tidak bergerak (dead spot), tekanan negatif (static pressure) yang berdampak dari daya kerja kipas, titik pengembunan pada sekam (dew point) dan indek panas (Heat Index) di dalam kandang.

Seminar dilanjutkan dengan forum diskusi dan menyelesaikan beberapa kasus di lapangan yang dihadapi pada kandang CH. Seminar dimulai jam 14.00 tepat dan diakhiri tepat jam 16.30 WIB, dan tercatat diikuti oleh 76 peserta.






Penulis     : Roni
Foto        : Roni
Editor      : Fajar

Posting Komentar

0 Komentar