Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com. Jum'at (07/08/2026) alumni sekaligus dosen fakultas Peternakan Afduha Nurus Syamsi mengisi kajian yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) United Kingdom bersama Muslimat NU UK, Fatayat NU UK, Lazisnu UK dan Majelis Alumni IPNU-IPPNU Eropa. Afduha membawakan materi dengan tema "Susu Ternak : Antara Manfaat dan Kehati-hatian dalam Mengonsumsi".
Afduha membuka paparannya dengan QS An-Nahl [16]: 66:“
Dan sungguh, pada hewan-hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya, dari antara kotoran (farth) dan darah (dam), berupa susu yang murni, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”
Ayat inilah yang menjadi poros seluruh presentasi. Menurutnya, ayat ini bukan sekadar informasi biologis, melainkan undangan untuk mengambil pelajaran, sebagaimana ia tuangkan bersama tim penelitinya dalam kajian “Susu Ternak dalam Bingkai Tafsir ‘Ilmi: Studi Integrasi Tafsir Al-Quran dan Ilmu Peternakan” (Safitri, Syamsi, Setiana, & Nuskhi, 2020).
Ia menggarisbawahi satu hal penting yang kerap disalahpahami dalam pendekatan tafsir ilmi: semangat yang diserukan Al-Qur'an bukanlah perintah untuk membuktikan kebenaran ayat lewat sains, melainkan dorongan untuk mengoptimalkan seluruh potensi manusia dalam “membaca” fenomena, dan mengambil hikmah darinya agar tumbuh keinsyafan akan kebesaran Allah.
Memahami Susu dengan Empat Kata Kunci
Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih teknis, Afduha mengajak audiens menyepakati definisi dasar. Susu, dalam pengertian ilmu peternakan, adalah cairan berwarna putih, bergizi, yang dihasilkan oleh kelenjar ambing mamalia.
Empat kata kunci itu (cairan, putih, bergizi, kelenjar ambing) punya konsekuensi besar. Artinya, secara alami susu diproduksi oleh mamalia (sapi, kambing, domba, kuda, kerbau, unta) untuk satu tujuan utama: feed the young, memberi makan anaknya. Fakta yang lebih mendalam menunjukkan bahwa Allah memberikan karunia kepada hewan-hewan ternak untuk menghasilkan susu yang melebihi kebutuhan anaknya. Sebagai contoh, sapi mampu menghasilkan susu antara 15–40 liter per hari, sedangkan kebutuhan pedet hanya berkisar antara 4–5 liter per hari. Manusia kemudian diizinkan untuk memanfaatkannya sebagai pangan lintas usia, tanpa merenggut hak anak-anak ternak tersebut.
Jika kembali pada definisi susu, dari sini pula muncul konsekuensi lain yang dibahas belakangan bahwa cairan putih yang tidak berasal dari kelenjar ambing tidak dapat dinyatakan sebagai susu. Pemaknaan ini penting, agar manusia dapat memahami dan mendapatkan manfaat yang sebenarnya dari susu yang dimaksud dalam Al-Qur'an.
Susu Ternak Sangat Bermanfaat
Susu adalah “Nature’s Perfect Food”; julukan ini bukan istilah baru. Afduha melacaknya hingga tahun 1929, saat Samuel J. Crumbine dan James A. Tobey menerbitkan buku The Most Nearly Perfect Food: The Story of Milk. Sebutan itu bertahan sampai hari ini karena beberapa alasan:
1. Sekitar 87% kandungan susu adalah air; sisanya adalah nutrisi padat yang sangat kaya manfaat. Konsistensinya yang cair mendorong reaksi yang cepat oleh enzim-enzim pencernaan untuk menghidrolisis makronutrien menjadi mikronutrien yang mudah diserap.
2. Komposisinya lengkap dan seimbang: protein, lemak, laktosa, mineral, dan vitamin dalam satu bahan. Lengkap karena mengandung makro dan mikronutrien yang dibutuhkan tubuh. Seimbang karena komposisinya hampir seimbang antara nutrisi pada kelasnya masing-masing. Dari sisi zat gizi, susu menyumbang kalsium (kesehatan tulang dan gigi, kontraksi otot, pembekuan darah), protein (pemeliharaan otot, kulit, rambut, keseimbangan hormonal), vitamin D (penyerapan kalsium), vitamin B12 (fungsi enzim penghasil energi), vitamin A (kesehatan mata dan kulit), kalium (tekanan darah), serta magnesium (kerja saraf dan kontraksi otot).
3. Daya cerna dan nilai biologisnya ≥95% — artinya hampir seluruh nutrisi yang masuk ke saluran cerna benar-benar terserap oleh tubuh.
Proses produksi susu “Dari Antara Kotoran dan Darah”: Sebuah Alur yang Bisa Dilacak
Bagian ini menjadi salah satu segmen paling memikat dalam paparan. Afduha membentangkan proses produksi susu (biosintesis susu) di tubuh sapi, lalu menyandingkannya dengan redaksi ayat:
1. Feed: “ternak mengonsumsi pakan”.
2. Digesta / chyme: “Pakan dicerna di rumen dan saluran pencernaan. Inilah yang dalam ayat disebut farth (isi perut/kotoran)”.
3. Nutrisi diserap melalui dinding saluran pencernaan.
4. Transport: “nutrisi dibawa oleh aliran darah (dam) menuju ambing”.
5. Ambing: terjadi proses filtrasi dan sintesis di sel sekretori: asam amino menjadi kasein dan protein whey, glukosa menjadi laktosa, asetat dan asam lemak menjadi trigliserida.
6. Susu: “keluar dalam keadaan murni, terpisah sempurna dari kotoran maupun darah”.
Urutan biologis ini, persis menggambarkan apa yang disampaikan ayat empat belas abad silam: susu yang keluar “dari antara” keduanya, namun tetap murni dan mudah ditelan. Hal ini juga menjelaskan bagaimana susu menjadi halal, yaitu karena kemurniannya sebagai bentuk yang baru, yang sama sekali berbeda dengan kotoran (fart) ataupun darah (dam) "Ujar Afduha".
Halal Saja Tidak Cukup: Ada Syarat Tayyib
Di titik ini paparan berbelok dari kekaguman menuju kewaspadaan. Afduha menghadirkan ayat kedua, QS Al-Baqarah [2]: 168:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik (halālan ṭayyiban) yang terdapat di bumi…”
Susu pada dasarnya murni dan halal. Tetapi apakah susu yang sampai ke gelas kita masih tayyib (sehat, aman, dan proporsional?). Menurutnya, di sinilah letak celah yang perlu diperiksa, dan celah itu ada di dua titik rantai pasok.
Di tingkat peternakan (on farm):
•Kontaminasi mikroba akibat sanitasi pemerahan yang buruk
•Residu bahan kimia dan antibiotik
•Pemalsuan (adulteration)
•Isu kesejahteraan hewan (animal welfare)
Pada tingkat ini dapat ditemukan banyak titik kritis untuk menggeser susu dari pangan yang tayyib menjadi pangan yang perlu diwaspadai. Proses budidaya yang konvensional meningkatkan risiko kontaminasi susu oleh mikroba dari lingkungan. Proses pengobatan ternak dari penyakit dan adanya kenakalan peternak/distributor dalam memalsukan susu memungkinkan susu berubah menjadi agen foodborne diseases. Di sisi lain, praktik pembunuhan pedet di beberapa perusahaan besar di luar negeri (pengimpor susu) juga menjadi isu besar yang menjadikan susu tidak thayyib bagi kita. Afduha kemudian mencontohkan bahwa telah banyak proses budidaya di Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat yang telah mendorong praktik smart farming dan green farming untuk menekan risiko-risiko ini.
Di tingkat industri pengolahan:
•Penambahan gula
•Perisa, pewarna, dan penstabil
•Berbagai bahan tambahan lain
Sistem pelabelan seperti Nutri-Grade disebutnya sebagai salah satu upaya agar konsumen bisa menilai produk dengan cepat sebelum membeli.
Susu Apa yang Sebenarnya Kita Cari?
Salah satu pesan paling praktis dari paparan ini adalah pembedaan antara susu olahan dan produk yang sekadar mengandung susu. Keduanya berdiri di rak yang sama, dengan kemasan yang sama menariknya, tetapi isinya jauh berbeda.
Afduha menunjukkan beberapa label komposisi produk nyata. Ada produk dengan susu segar hanya sekitar 10%, sisanya air, gula, penstabil nabati, minyak nabati, whey, maltodekstrin, perisa sintetik, dan pewarna. Ada pula kemasan “susu sekolah” dengan komposisi susu sapi segar 50% dan susu rekombinasi 49%.
Tips untuk konsumen : Jangan lupa membaca komposisi...!!
Membaca daftar komposisi jauh lebih informatif daripada membaca klaim besar di bagian depan kemasan.
Penulis : Afduha Nurus Syamsi
Editor : Fajar Hidayat
Foto : Afduha Nurus Syamsi


0 Komentar
Jika kesulitan posting komentar via hp harap menggunakan komputer