Ning Rachmawati; Mempopulerkan Fapet Unsoed Melalui Peran Nyata di Peternakan Babi

Ning Rachmawati (kiri) dalam seminar di Solo
Belum lama ini pemerintah Indonesia menyatakan pengakuan resmi bahwa peternakan babi di Indonesia sudah terkena wabah ASF (African Swine Fever). Ini adalah penyakit yang sangat menakutkan, dimana negeri Tiongkok yang populasi babinya terbanyak di dunia, kini lebih dari 40% babi musnah karena ASF. Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) Sauland Sinaga dibuat sibuk untuk mengurusi peternak yang tengah dilanda musibah  ini , mengingat sebelumnya, pemerintah bersikukuh tidak mau mengaku penyakit yang merebak itu adalah ASF.

Dan ngomong-ngomong soal peternakan babi di Indonesia dan organisasi AMI, Fapet Unsoed layak berbangga karena perintis dan pendiri organisasi yang bernama Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) adalah alumni Fapet Unsoed. Nama lengkapnya Catharina Rachmawati Wahyuningsih Siswadi. Mahasiswa Unsoed mengenalnya dengan sebutan Ning Rachmawati . Ia alumni Fapet Unsoed angkatan 1979 yang kemudian melanjutkan S2 di UGM dan University of Melbourne Australia dan kemudian S3 di Universitas Brawijaya Malang.

Kisahnya bermula tahun 2000an,  Ning Rachmawati beberapa kali mondar mandir Purwokerto -Jakarta. Salah satu kegiatannya mendiskusikan tentang eksistensi peternakan babi di Indonesia. Rupanya meskipun di kampus dia spesialis mengajar ilmu reproduksi ternak, namun di lapangan ia dikenal dekat dengan para peternak babi khususnya di wilayah Solo dan sekitarnya.

Dalam beberapa kali pertemuan di Jakarta , ia menyatakan pandangannya bahwa para peternak babi di Indonesia kurang bersuara karena menyangkut komoditi yang sensitif. Namun fakta bahwa jika konsumen babi di Indonesia 10% dari jumlah penduduk saja, total konsumen babi melebihi jumlah penduduk Malaysia. Apalagi peternakan babi di Indonesia sudah berkontribusi dalam ekspor komoditi peternakan. Untuk itu harus ada kejelasan lokasi usaha, sekaligus sebuah kesempatan untuk mengembangkan peternakan berorientasi ekspor.

Mendengar pemaparan itu, saya mencoba mengatur pertemuan dengan Ketua Umum ASOHI pada waktu itu, Haji Abdul Karim Mahanan. Tanpa diduga, dukungan Karim sangat bagus untuk mengamankan peternakan babi. Bahkan berikutnya Drh Sri Dadi Wiryosuhanto mantan Direktur Kesehatan Hewan juga menyampaikan dukungannya dengan mengatakan, sejatinya peternakan babi itu sleeping giant (raksasa yang tidur). Indonesia bisa berperan besar untuk memasok daging babi di kawasan Asia.

Oleh karena itu atas saran Karim, lantas dibentuklah  Asosiasi Monograstirk Indonesia (AMI) pada tahun 2002. Peresmian pembetukan AMI dilakukan di kantor ASOHI dan Majalah Infovet. Para pengurus yang pertama ini sebagian besar dari kalangan ASOHI dan PDHI.

Sejak itulah Ning semakin banyak keliling ke pejabat mulai dengan Dirjen yang waktu itu dijabat Dr Drh Sofjan Sudardjat dan para direktur di lingkungan Ditjen Peternakan antara lain Soepodo Budiman (Direktur Budidaya), Tri Satya Putri Naipospos (Dirkeswan), Don P Utoyo (Direktur Perbibitan) . Nusyirwan Jacob (alm), salah satu alumni senior yang berkarir di Ditjen  setahu saya cukup berperan untuk mempertemukan Ning Rachmawati ke para pejabat di Kementan.
AMI bergulir dengan cepat, meskpun sepi dari publikasi.

Gebrakan pertama seminar internasional tahun 2002 di Denpasar bersamaan dengan Indolivestok Expo , selanjutnya Seminar Internasional di Hotel Dinasty Purwokerto (sekarang Hotel Java Heritage). Organisasi ini juga sempat bekerjasama dengan ASA (American Soybean Associaton ) untuk mengadakan Swine Farmer Forum di Solo, Surabaya  dan Medan serta berbagai aktivitas lainnya. Beberapa kali mengadakan seminar membahas peternakan babi di Solo, diskusi dengan kedutaan Inggris dan sebagainya. Ning juga sempat ke Inggris dalam rangka studi banding peternakan babi. Di bawah kepemimpinannya, para peternak babi yang tergabung dalam AMI juga sempat diajak mengadakan studi banding ke peternakan babi di Thailand, sekaligus berkunjung ke pameran peternakan VIV Asia di Bangkok.

Peternakan babi terbesar di Indonesia di Pulau Bulan juga mengundang AMI untuk melakukan diskusi dan semacam audit SDM di peternakan tersebut. Ini adalah peternakan babi yang mengekspor babi 1000 ekor babi per hari ke Singapura.

Sejumlah kesempatan makin terbuka, sayangnya Ning kemudian harus fokus pada kuliah S3, hingga selesai . Untunglah kemudian diadakan forum pemilihan pengurus baru tahun 2014 dan Ning telah menyiapkan kadernya yaitu Dr Sauland Sinaga (Dosen Unpad) yang memimpin AMI hingga sekarang.
Ning (Kanan) bersama Sauland Sinaga saat National Swine Forum sekaligus Pemilihan Ketua AMI tahun 2014

Hingga saat ini para mantan pejabat di era Dirjen Dr Sofyan Sudardjat jika bicara Unsoed, biasanya menanyakan, mas gimana kabar Bu Rachma Ketua AMI? Kadang ada yang bertanya, Gimana kabar Bu AMI ? ".

Tahun 2018 lalu AMI bekerjasama dengan Ditjen PKH mengadakan seminar tentang upaya mencegah penyakit ASF di Solo yang dihadiri oleh peternak dan pejabat dinas peternakan dari seluruh Indonesia.  Ning Rachmawati sebagai penasehat AMI bertindak sebagai moderator . Forum ini seperti reuni setelah sekian lama beberapa tokoh tidak bertemu, antara lain Dr Tri Satya Putri Hutabarat dan sejumlah pejabat dan peternak dari berbagai daerah. Sebagian dari mereka menyebut Bu AMI kepada Ning, mungkin saking melekatnya nama Ningr Rachma dengan AMI.

Tampaknya gebrakan Ning di dunia perbabian, sangat mengesankan para pejabat Kementan dan para peternak. Saya sendiri terkesan ketika dosen saya ini memperkenalkan diri kepada pejabat di Kementan. Ia selalu menyatakan dengan sikap merendah " Saya ini kan dari kampung lho pak, para peternak di Solo dan sekitarnya menyebut saya sebagai ibunya mereka. jadi kedatangan saya kesini menyampaikan aspirasi mereka".

Kalimat yang merendah itu sangat jitu membuat suasana pertemuan menjadi akrab . Rupanya penjelasan Ning sangat dibutuhkan para pejabat, mereka sangat aktif menanyakan perkembangan peternakan babi (dan kadang juga yang lainnya).  Pada penjelasan itulah, Ning tampil dengan penguasaan ilmu dan pengalaman lapangan yang hebat. Hingga para pejabat selalu membutuhkan masukan Ketua Umum AMI ketika membahas peternakan babi.

Dari seorang Ning Rachmawati, pemerintah peduli pada peternak Babi, Dan tak bisa dipungkiri ia telah membuat nama Fapet Unsoed berkibar di pusat. Karya seperti itulah yang membuat Unsoed makin diperhitungkan, dan sekaligus membuat alumni Fapet Unsoed bangga. ***


BIODATA

Nama   : Catharina Rachmawati Wahyuningsih Siswadi
Tempat, tanggal lahir : Purwokerto, 7 Desember 1950

Riwayat Pendidikan

S1 Fapet Unsoed 1979 (Ir)
S2 FKH UGM 1987 (S.U.) Biologi Reproduksi
S2 the University of Melbourne, Australia, 1995 (M.Agr.Sc), fakulty agroforestry
S3 Univ Brawijaya, 2010 (DR)

Riwayat Pekerjaan

-Dosen Fapet Unsoed 1979- 2016)
-Ketua Tim Indonesia untuk kerjasama Australia Asia Economic Cooperation Program /AAECP. 1997- 2002 (Australia, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Thailand, Filipina)
- PD I Faperta Univ Bung Karno 1998- 2000

Lain-Lain
- Tim penatar Nasional. Calon penulis dan penerjemah buku ajar Perguruan Tinggi  1992-2007 (Dikti)
- Ketua Tim Penatar Nasional  Character Building, 2004-2007(Dikti)
- Ketua Tim Nasional  Penguatan Dosen PA, 2004-2007 (Dikti)
- Pendiri dan Presiden Asosiasi Monogastric Indonesia (2002-2014)


Penulis : Bambang Suharno

Posting Komentar

0 Komentar