Intip Industri Perunggasan di Era 4.0


Kafapetunsoed.com – Era revolusi industri 4.0 menuntut seluruh lapisan masyarakat untuk adaptif terhadap teknologi, termasuk di dalamnya sektor peternakan.  Generasi Muda sebagai penerus peternakan, haruslah bersahabat dengan teknologi.  Seperti Ibu Dekan Fakultas Peterakan Universitas Jenderal Soediraman (Fapet Unsoed), Dr. Triana Setyawardani, M.P. yang memonitor kegiatan webbinar di tengah perjalannya ke Semarang, Jawa Tengah.



Era ini merupakan gabungan teknologi otomatis dengan teknologi cyber, teknologi ada dalam genggaman.  Ir. Roni Fadilah, SE, IPU alumnus Fapet Unsoed angkatan 1986 dalam kegiatan webbinar “Perkembangan Industri Perunggasan” menyebutkan bahwa Revolusi industri 4.0 di Industri Peternakan menerapkan digitalisasi berbasis Internet of think (IoT), Big Data, Machine Learning, Artifical Intelligence (AI), Advanced Robotic, serta Sharing Economy.  Lantas, keterkaitan dengan perkembangan industri peternakan di Indonesia?

Perkembangan industri peternakan di Indonesia saat ini terfokus pada empat hal. Pertama, Berorientasi kepada kebutuhan pelanggan, kemudian beradaptasi dengan IT dan digital, memanfaatkan big data dan jaringan, dan yang terakir konektifitas hulu dan hilir.  Dengan rinci Roni pun mengambarkan secara rinci alur digitalisasi di Industri Perunggasan. Pemanfaatan IoT dalam industri peternakan mampu mengatur pencahayaan, Rh, temperatur, amoniak, kecepatan angin, keamanan lingkungan, semua terhubung dalam panel control yang terintegrasi dengan Internet .

Dari sana akan terhimpun dalam Cloud Based Sofware yang mampu memberikan gambaran terkait recording, logistic, serta monitoring.  Dari data yang terkumpul, AI akan bekerja menggabungkan sejumlah data dengan cepat mampu mengatur kondisi ternak dalam sebuah usaha peternakan.  Seperti mengukur kondisi ideal dalam kandang, memeriksakan kesehatan ternak, menentukan program kesehatan yang berorientasi pada kualitas produk.

Roni pun menjelaskan saat ini tolak ukur industri perunggasan terletak pada efisiensi dan efektifitas produksi ternak, mampu memberikan visibilitas secara real time, mengotomatisasikan proses manual, dan memberikan nilai tambah pada peternak melalui analisa Big Data.  Untuk mengelola  itu semua dibutuhkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kearifan, pengalaman, dan sikap kerja yang mumpuni.

Generasi muda harus terus memiliki nilai-nilai luruh untuk menjawab tantangan industri perunggasan.  Rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi protein hewani khususnya daging dan telur menjadi kan peluang bagi mahasiswa fapet unsoed yang bergabung dalam webbinar untuk mampu bersama menggugah masyarakat dengan membuat produk-produk olahan ataupun mengkampanyekan konsumsi ayam dan telur seperti yang telah dilakukan Keluarga Alumni Fapet Unsoed.

Tidak ada jaminan harga pasar di atas Harga Pokok Produksi juga menjadi tantangan bagi insan peternakan.  Terlebih, bahan baku pakan masih bergantung pada luar negeri, adanya pembatasan dan persyaratan bahan baku import, keterbatasan bahan baku lokal yang tidak kontinyu dan kualitas masih kurang standar.  Panjangnya rantai pemasaran juga menjadi tantangan dunia peternakan.

Roni pun berpesan pada peserta webbinar yang hadir dimana sebagian masih generasi muda, “Jika ingin berternak sasar konsumen langsung dengan menyiapkan produk yang berkualitas.”  Prof. Elly Tugiyanti selaku penanggung jawab kegiatan sangat mendukung paparan yang disampaikan Roni Fadilah.  Kegiatan Webbinar yang telah memasuki seri-3 dirasa belum cukup untuk mengulik dunia perunggasan.  Turut hadir dalam kegiatan webbinar yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 November 2021 Mahasiswa dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari dan Team dari PT New Hope Indonesia


Penulis : Nurtania Sudarmi

Foto : Fajar Hidayat

Editor : Roni Fadilah

Posting Komentar

0 Komentar