Kalau dicermati secara mendalam menurut dosen ahli Geologi Teknik dan Longsoran Dr. Indra ada beberapa faktor yang menyebabkan tanah longsor sesuai dengan pola longsor yang terjadi dari beberapa titik. Kejadian terbanyak dapat menjadi pola yang bisa dipelajari dan dicoba untuk melakukan minimalisasi dampak dari suatu kejadian.
Dr. Indra (anggota IAGI/Ikatan Ahli Geologi Indonesia) menjelaskan bahwa faktor dominan yang menyebabkan longsor adalah curah hujan yang tinggi. Curah hujan merupakan faktor yang dominan dan tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Faktor ini tidak dapat dimitigasi secara umum karena kejadiannya secara alamiah dan sulit dikendalikan oleh manusia. Sehingga kalau hujan turun besar potensi terhadap longsor dan banjir pasti akan lebih besar.
Selanjutnya Dr. Indra (anggota IABI/Ikatan ahli bencana Indonesia) mengatakan bahwa faktor yang kedua adalah faktor alamiah lainnya yaitu bentang alam, tanah, dan batuan. Bentang alam, tanah, dan batuan juga merupakan faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia karena sifat alamiahnya, tetapi masih bisa dilakukan rekayasa teknik untuk memperkuatnya.
Adapun faktor ketiga menurut Dr.Indra yang juga anggota MGTI/Masyarakat Geologi Teknik Indonesia adalah tata guna lahan, pemanfaatan lahan, serta semua aktifitas dan infrastruktur yang diciptakan. Pengembangan infrastruktur untuk aktifitas manusia seringkali menjadi penyebab yang mempercepat terjadinya bencana, dikarenakan masyarakat sulit mencari pilihan lain dalam pengembangan infrastrukturnya. Untuk kegiatan ini diperlukan rekayasa teknik dalam pengembangan infrastrukturnya.
Beberapa pembangunan infrastruktur sudah semestinya menggunakan teknologi dalam pengembangannya untuk menanggulangi kejadian bencana alam, ungkap Dr. Indra.
Beberapa kejadian yang bersifat lokal sering terjadi dipinggiran tebing-tebing sungai, daerah sekitar perbukitan dan area/jalur aliran sungai. Permasalahan utama terjadi bencana ini selain karena faktor curah hujan juga karena seringkali banyak ketidaksesuan pemanfaatan lahan. Pengembangan infrastruktur yang pesat, perkembangan ekonomi yang massif seringkali harus bertampalan dengan kondisi yang memicu bahaya. Sehingga untuk permasalahanan ini perlu didiskusikan dengan pihak-pihak terkait untuk meminimalisasikan dampak resiko bencana yang terjadi, ujar Dr.Indra
Dr. Indra menambahkan bahwa untuk meminalisasi resiko bencana yang terjadi perlu strategi masif, holistik, dan komprehensif yang melibatkan semua elemen masyarakat, karena kejadian bencana tidak dibatasi oleh wilayah administratif. Kejadian bencana hidrometeorologi bisa terjadi lintas administrasi dan saling terkait antara hulu dan hilir. Beberapa hal penting yang bisa dilakukan untuk mengendalikan bencana dan mengurangi resiko bencana adalah pengelolaan wilayah di daerah hulu dan hilir. Pengembangan wilayah pemukiman dan infrastruktur yang memperhatikan faktor lingkungan.
Langkah nyata yang bisa dilakukan terkait pengelolaan hulu adalah riset dan evaluasi di daerah hulu terkait pemanfaatan lahan dan pengembangan wilayah, kemudian untuk pengelolaan daerah hilir perlu teknologi - teknologi untuk pengendali bencana seperti bencana banjir diperlukan kolam-kolam retensi atau waduk. Kolam retensi dapat dibuat dalam skala lokal untuk mengendalikan bencana lokal yang terjadi. Dan studi-studi lainnya untuk mencari solusi sesuai karakeristik bencana di masing-masing wilayah, ungkap Dr. Indra.
Penulis : Ir. Alief Einstein, M.Hum
Foto : Ir. Alief Einstein, M.Hum


0 Komentar
Jika kesulitan posting komentar via hp harap menggunakan komputer