Mengintip Sistem Budidaya Ikan Gabus Thailand

Agung Cahyo di Copenhagen, Denmark.


Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com. Ikan Gabus (Channa sp.) berasal dari family Perciformes yang merupakan kelompok terbesar dari ikan - ikan penting secara komersial dan rekreasi. Anggota kelompok ikan ini menunjukkan kemampuan adaptasi sangat baik terhadap berbagai lingkungan, ungkap Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed Agung Cahyo Setyawan, S.Pi., M.Si.saat bincang-bincang  dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com.

Ikan Gabus di Indonesia menurut Agung Cahyo (S3 ongoing Aquatic Pathobiology - Copenhagen University, Denmark) termasuk salah satu jenis ikan ekonomis dengan produksi mencapai lebih dari 30 ribu ton pada tahun 2024 (KKP 2024). Ikan ini disukai karena cita rasa dan ketebalan daging serta kandungan nutrisinya.

Adanya kandungan albumin yang memiliki banyak manfaat dalam bidang kesehatan menambah nilai ekonomis dari ikan Gabus. Di Indonesia saat ini harga per Kg ikan Gabus mencapai 60 - 80 ribu rupiah, ujar Agung Cahyo yang juga dosen ahli Manajemen Kualitas Air dari FPIK Unsoed.

Kebutuhan pasar untuk Ikan Gabus saat ini sebagian besar masih dipenuhi dari kegiatan penangkapan. Hal ini menyebabkan ketersediaan Ikan Gabus di alam semakin menurun. Muchlisa (2024) melaporkan bahwa laju ekploitasi (penangkapan) Ikan Gabus di alam telah melebihi ambang batas toleransi (E > 0,5). Solusi untuk memenuhi kebutuhan Ikan Gabus adalah dengan kegiatan budidaya. Namun budidaya Ikan Gabus menghadapi beberapa tantangan, terutama karena sifat kanibalismenya. Sifat ini membuat Ikan Gabus kecil harus segera dipisahkan dari ikan yang berukuran lebih besar. Selain itu, habitat alami Ikan Gabus adalah perairan sungai, danau, dan rawa sehingga memerlukan modifikasi lingkungan dalam proses pemijahan dan budidayanya. jelas Agung Cahyo (Ketua ISPIKANI (Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia) DPC Banyumas.

Agung Cahyo di Pulau Bornholm selatan Swedia.

Agung Cahyo mengatakan bahwa pembudidayaan Ikan Gabus di Indonesia saat ini banyak dilakukan dengan kolam terpal, kolam tanah, dan kolam beton. Namun di Thailand terdapat metode budidaya ikan Gabus yang unik dengan menggabungkan beberapa teknik sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien, terstruktur, dan tingkat keberhasilannya meningkat. Metode tersebut dilakukan dengan menggunakan ember untuk wadah pemijahan, kolam beton untuk penetasan, dan kolam tanah untuk pembesaran. Pemijahan pada ember sangat memudahkan pembudidaya untuk mengambil telur dan memisahkannya dari induk (menghindari kanibalisme), penetasan dan pemeliharaan larva pada kolam beton memudahkan kontrol kualitas air, manajemen pakan, serta monitoring pertumbuhan dan kesehatan, sementara itu pembesaran pada kolam tanah dilakukan untuk menyesuaikan habitat alami ikan Gabus.

Selanjutnya Agung Cahyo menjelaskan ember yang digunakan untuk pemijahan dipilih yang berwarna gelap dan memiliki tutup. Warna terang harus dihindari karena pada dasarnya ikan Gabus adalah hewan nocturnal (aktif pada malam hari) dan melakukan pemijahan di malam hari. Pada saat melakukan pemijahan, ember ditutup rapat agar ikan tidak melompat keluar. Namun tutup ember harus dilubangi agar tetap terjadi sirkulasi udara di dalam dan di luar ember. Ukuran ember yang digunakan umumnya adalah 80 atau 100 liter dengan volume air 80%. Hal ini bertujuan agar permukaan air tidak menempel pada tutup karena pada saat terjadi pemijahan, Ikan Gabus akan mengeluarkan busa sebagai tempat menempelnya telur yang mengapung di permukaan. Pemijahan dapat dilakukan dengan memasukkan sepasang induk yang telah siap (matang gonad) ke dalam ember. Induk tersebut terlebih dahulu disuntik dengan hormon perangsang pemijahan agar proses kematangan gonadnya lebih cepat dan seragam. Selama proses pemijahan ini, air di dalam ember tidak perlu diaerasi karena Ikan Gabus dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Pemijahan sebaiknya dilakukan pada malam hari agar suhu lebih stabil dan sebagai upaya meniru kondisi di lingkungan liar. Pada umumnya pemijahan terjadi antara 8 - 12 jam setelah induk dimasukkan. 

Telur yang telah dibuahi dan sehat akan terlihat mengapung di permukaan air dan berwarna kuning transparan, sedangkan telur yang mati akan tenggelam di dasar dan berwarna pucat. Penggunan ember berwarana gelap (hitam) juga akan memudahkan dalam pengamatan di tahap ini. Telur yang sehat harus segera diambil dan dipindahkan ke kolam penetasan agar tidak dimakan oleh induknya. Telur ikan Gabus akan menetas setelah 24 jam dan selama tiga hari berikutnya belum perlu diberi makan karena larva memiliki cadangan makanan pada kuning telur yang masih menempel pada tubuhnya. Kolam penetasan dan pemeliharaan larva ini harus diaerasi dengan kuat karena ikan belum memiliki organ tubuh lengkap dan membutuhkan kondisi yang ideal bagi pertumbuhannya. Pakan pertama untuk larva Ikan Gabus adalah pakan alami dari kelompok Zooplankton seperti Artemia sp. atau Daphnia sp., Cacing sutra (Tubifex sp.) juga dapat diberikan sebagai pakan awal, namun menurut Priayadi et.al (2010), pakan yang paling baik adalah Artemia sp. karena kandungan nutrisi dan kesesuaian ukuran bukaan mulut larva Ikan Gabus.  Setelah larva berumur satu minggu, pakan berupa pellet dapat mulai diberikan dengan tetap dicampur pakan awal untuk memudahkan adaptasi dan meningkatkan nilai nutrisinya. Di Thailand, pada tahap ini pakan diberikan dengan cara dicampur merata, dibuat pasta, dan ditempelkan pada bola plastik agar saat diberikan bisa tetap mengapung di permukaan air. Memasuki umur dua atau tiga minggu pakan berupa pellet murni mulai dapat diberikan secara penuh agar pertumbuhan larva menjadi lebih merata. Pada tahap ini pakan pellet yang diberikan harus dipilih dari jenis pakan yang dikhususkan untuk larva agar kebutuhan nutiri dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan dan ukuran bukaan mulut ikan. Pemberian pakan ini dapat diteruskan sampai Ikan Gabus berumur satu bulan dan telah tumbuh menjadi benih yang siap ditebar di kolam pembesaran, ungkap Agung Cahyo.

Agung Cahyo menambahkan bahwa penebaran benih Ikan Gabus diawali dengan grading (sortir) berdasarkan ukuran. Hal ini perlu dilakukan agar ikan yang ditebar dalam satu kolam berukuran sama untuk menghindari terjadinya kanibalisasi. Pakan yang diberikan pada tahap pembesaran ini adalah pellet murni yang dipilih sesuai dengan peruntukan yang disarankan oleh produsen pakan agar kebutuhan nutrisi ikan terpenuhi. Kolam pembesaran ini sebelumnya harus dipupuk agar subur dan ditebari kapur untuk mempertahankan kestabilan keasaman tanah dan membunuh hama yang mungkin terdapat di lingkungan budidaya. Kolam pembesaran siap digunakan apabila air sudah tampak tidak keruh namun berwarna gelap. Ikan Gabus ukuran konsumsi pada umumnya dapat diperoleh setelah pemeliharaan selama 2,5 sampai dengan 3 bulan.


Penulis     : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto           : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar