![]() |
| Prof.Ir. Jamrud Aminuddin, S.Si.,M.Si.,Ph.D.,IPM. (Alumni S3 Remote Sensing dari Chiba University, Jepang dan dosen ahli Penginderaan Jarak Jauh dari FMIPA Unsoed). |
Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com. Gerhana Bulan total adalah peristiwa ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan. Akibatnya, Bulan tidak menerima cahaya Matahari secara langsung. Peristiwa ini hanya terjadi pada fase bulan purnama. Saat gerhana total, Bulan sering tampak berwarna merah tembaga atau dikenal sebagai blood moon, ungkap Dosen ahli Penginderaan Jauh dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof.Ir. Jamrud Aminuddin, SSi.,MSi.,PhD.,IPM. saat memberikan informasi ilmiah pada pemaparan tentang Gerhana Bulan Total yang dipandu Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Minggu 01 Maret 2026.
Terkait Gerhana Bulan, Guru Besar Jurusan Fisika FMIPA Unsoed Prof.Ir. Jamrud, PhD., menyampaikan fenomena ini terjadi karena proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Pertama, cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami penyebaran. Kedua, cahaya dengan panjang gelombang pendek (biru) lebih banyak tersebar, sebagaimana yang menyebabkan langit siang tampak biru. Ketiga, cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang (merah) tetap diteruskan dan dibiaskan menuju permukaan Bulan. Proses ini serupa dengan mekanisme yang membuat langit tampak merah saat senja.
Prof.Ir. Jamrud, PhD. (Alumni S3 Remote Sensing dari Chiba University, Jepang) menjelaskan bahwa Tahapan Gerhana Bulan Total dimulai dari fase penumbra, yaitu ketika Bulan memasuki bayangan samar Bumi (penumbra). Pada tahap ini, perubahan cahaya masih sulit diamati. Selanjutnya adalah fase sebagian, ketika sebagian permukaan Bulan tertutup bayangan inti (umbra) sehingga tampak seperti “tergigit”. Tahap utama adalah fase total, ketika seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra dan tampak berwarna merah. Setelah itu, gerhana memasuki fase kembali sebagian dan penumbra, di mana Bulan perlahan keluar dari bayangan hingga kembali ke kondisi normal.
Pertanyaan yang sering muncul di masyarakat menurut Prof. Jamrud, PhD. yang lulus dari Program Studi Profesi Insinyur FT UGM Bidang Teknik Fisika adalah apakah gerhana Bulan dapat dilihat secara langsung dan apakah aman untuk diamati. Jawabannya adalah sangat aman dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan tidak memerlukan kacamata khusus. Fenomena ini dapat diamati secara langsung, maupun menggunakan kamera biasa, teropong, atau teleskop kecil.
Gerhana Bulan Total dapat berlangsung sekitar 1–2 jam pada fase totalitasnya. Tidak setiap bulan purnama mengalami gerhana karena bidang orbit Bulan memiliki kemiringan terhadap orbit Bumi mengelilingi Matahari. Peristiwa ini dapat disaksikan oleh wilayah Bumi yang sedang mengalami malam hari, kata Prof.Ir. Jamrud, PhD..yang juga sudah mendapatkan Sertifikat IPM (Insinyur Profesional Madya).
Pada 3 Maret 2026, yang bertepatan dengan malam ke-14 Ramadhan 1447 H, akan terjadi gerhana Bulan total (total lunar eclipse). Artinya, Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti Bumi (umbra) dan tampak berwarna kemerahan, ujar Anggota Aktif Persatuan Insinyur Indonesia Prof.Ir. Jamrud, PhD.
Menurut perhitungan astronomis, durasi totalitas (ketika seluruh Bulan berada di dalam umbra) berlangsung sekitar 58 menit 19 detik, sedangkan keseluruhan fase gerhana (termasuk penumbra dan parsial) berlangsung sekitar 5 jam 38–39 menit. Gerhana ini akan terlihat dari berbagai wilayah dunia, terutama yang sedang mengalami malam hari. Secara umum, seluruh fase dapat diamati dari kawasan Asia Timur, Australia, Selandia Baru, dan Samudra Pasifik bagian tengah. Di beberapa wilayah Amerika Utara dan Amerika Tengah, fase total atau sebagian terlihat menjelang dini hari sebelum Matahari terbit. Sementara itu, sebagian besar wilayah Eropa dan Afrika tidak dapat menyaksikannya karena Bulan berada di bawah horizon saat gerhana berlangsung.ungkap Prof.Ir. Jamrud, PhD. (anggota Physics Society of Indonesia/PSI).
Berdasarkan analisis astronomis menggunakan perangkat lunak astronomi, untuk wilayah Indonesia waktu totalitas (fase merah) berlangsung sekitar pukul 18:04 – 19:02 WIB, atau 19:04 – 20:02 WITA, serta 20:04 – 21:02 WIT. Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT. Pada fase puncak tersebut, warna Bulan diperkirakan tampak merah paling kuat. Untuk mengamati fenomena ini, dianjurkan memilih lokasi dengan bidang pandang luas ke arah timur, terutama sesaat setelah Matahari terbenam. Untuk wilayah Purwokerto, berdasarkan analisis perangkat lunak astronomi, gerhana dapat diamati pada azimuth sekitar 75°–90° dari arah utara menuju timur. Elevasi pengamatan diperkirakan meningkat dari sekitar 5° hingga 30° di atas horizon sepanjang fase gerhana. Pengamatan kemungkinan lebih nyaman dilakukan sekitar pukul 19:02 WIB (akhir totalitas) dengan elevasi sekitar 15°, dengan catatan kondisi atmosfer mendukung dan tidak tertutup awan tebal, kata Prof.Ir. Jamrud, Ph.D. (dosen Unsoed yang mempunyai Hak Cipta dalam bidang Pompa Air Hemat Energi dengan Aliran Sungai sebagai Tenaga Penggerak).
Prof.Ir. Jamrud, Ph.D. (dosen Unsoed yang sudah 53 kali hadiri Seminar Nasional dan Internasional) menambahkan bahwa pada hari pelaksanaan pengamatan, Jurusan Fisika FMIPA Unsoed akan turut berpartisipasi dalam kegiatan pemantauan gerhana Bulan yang dilaksanakan dari area rooftop Kampus C FMIPA Unsoed. Observasi dilakukan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang telah dilengkapi sistem mounting bermotor otomatis. Perangkat ini mampu mengarahkan teleskop secara otomatis menuju posisi Bulan saat gerhana setelah koordinat dimasukkan ke dalam perangkat lunak SkyPlanetarium. Dengan dukungan teknologi tersebut, proses pengamatan menjadi lebih praktis dan presisi sehingga tidak memerlukan keahlian khusus, termasuk dalam bidang fotografi. Sistem mounting ini merupakan hasil riset Tim Peneliti Jurusan Fisika FMIPA Unsoed yang diketuai oleh Prof.Ir. Jamrud Aminuddin, SSi.,MSi.,Ph.D.,IPM, dengan anggota tim Prof.Drs. Budi Pratikno, M.Stat.Sci.,Ph.D., dan Dr. Mirda Prisma Wijayanto, MSi.
Penulis : Ir. Alief Einstein, M.Hum
Foto : Ir. Alief Einstein, M.Hum


0 Komentar
Jika kesulitan posting komentar via hp harap menggunakan komputer