Keutamaan dan Tata Cara Puasa Sunnah Syawal

Ustadz H. Amrulloh Sucipto Aji, S.Sos. (Alumni Jurusan Administrasi Negara FISIP Unsoed angkatan 1997, Direktur Madrasah Muallimin Muallimat Muhammadiyah, Purwokerto, Penasehat dan Ketua UPZ Takmir Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto)

A. Puasa Syawal

​Ibadah puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang menjadi sarana penyucian jiwa bagi setiap Muslim. Namun, selesainya bulan Ramadhan bukan berarti berhentinya amalan puasa. Syariat Islam memberikan ruang bagi hamba-Nya untuk menyempurnakan ibadah tersebut melalui puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Puasa ini merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) karena memiliki dimensi pahala yang besar dan hikmah spiritual yang mendalam, ungkap alumni Administrasi Negara FISIP Unsoed angkatan 1997 Ustadz H. Amrulloh Sucipto Aji, S.Sos. saat bincang-bincang  dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari ini Minggu 22 Maret 2026.

B. Keutamaan Puasa Syawal

Selanjutnya Ustadz Amru (sapaan akrab H. Amrulloh Sucipto Aji, S.Sos.) menjelaskan Keutamaan Puasa Syawal yang bersumber dari sabda Rasulullah SAW: ​"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim). Para ulama menjelaskan keutamaan ini berdasarkan kaidah pelipatgandaan pahala (Surah Al-An'am: 160):

1. Pahala Setahun Penuh:

Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Puasa Ramadhan (30 hari) setara dengan 300 hari, dan puasa Syawal (6 hari) setara dengan 60 hari. Total 360 hari mencakup hitungan satu tahun penuh,

2. Fungsi Puasa Syawal:

Ustadz Amru yang juga Direktur Madrasah Muallimin Muallimat Muhammadiyah,  Purwokerto mengatakan Sebagaimana shalat sunnah Rawatib menutup kekurangan shalat fardhu, puasa Syawal berfungsi menutup celah atau kekurangan yang mungkin terjadi selama puasa Ramadhan,

3. Tanda Diterimanya Amal:

Salah satu ciri amal Ramadhan diterima adalah adanya ketetapan hati untuk terus melakukan amal saleh di bulan berikutnya. Ini membuktikan bahwa kita adalah hamba Allah (Rabbaniyyun), bukan sekadar hamba bulan Ramadhan (Ramadhaniyyun), ujar Ustadz Amru (Ketua UPZ dan Penasehat Takmir Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto.

C. Tata Cara Pelaksanaan

​Terdapat kelonggaran dalam pelaksanaan puasa Syawal yang menunjukkan kemudahan dalam syariat Islam,


1. Waktu Pelaksanaan

Puasa ini dilaksanakan selama bulan Syawal. Waktu paling awal dimulai pada tanggal 2 Syawal, karena pada tanggal 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri) hukumnya haram untuk berpuasa,

2. Fleksibilitas Urutan (Boleh Berurutan atau Tidak):

a. ​Secara Berurutan:

Menurut Madzhab Syafi'i, yang paling utama adalah dilakukan secara berturut-turut (itstishal) segera setelah hari raya (tanggal 2 hingga 7 Syawal). Hal ini dianggap sebagai bentuk bersegera dalam kebaikan,

b. ​Secara Terpisah:

Jika seseorang tidak mampu melakukannya secara berurutan, maka diperbolehkan untuk mengerjakannya secara terpisah (misalnya: Senin dan Kamis, atau di awal, tengah, dan akhir bulan Syawal) asalkan tetap berjumlah enam hari di dalam bulan tersebut. Keduanya tetap mendapatkan pahala keutamaan "setahun penuh",

3. Ketentuan Qadha (Hutang Puasa):

Bagi mereka yang memiliki hutang puasa Ramadhan (karena uzur seperti haid atau sakit), sangat dianjurkan untuk mendahulukan qadha Ramadhan terlebih dahulu sebelum memulai puasa Syawal agar status puasa Ramadhannya menjadi sempurna secara hukum,

D. Kesimpulan

1. ​Puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal adalah kesempatan emas untuk meraih pahala besar dengan usaha yang relatif ringan,

2. Fleksibilitas pelaksanaannya, baik secara berurutan maupun terpisah, memudahkan setiap Muslim untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, sekaligus menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadhan.



Penulis     : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto           : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar