Perempuan, Solidaritas Global, dan Makna Baru Perjuangan 8 Maret

Nuriyeni Kartika Bintarsari, SIP.,MA.,Ph.D. (Dosen HI FISIP Unsoed dan alumni S3: Rutgers the State University of New Jersey-USA).

Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com. Tanggal 8 Maret setiap tahun adalah peringatan Hari Perempuan Internasional atau biasa disebut International Women’s Day/IWD. Hari perempuan internasional ini bukanlah sesuatu yang baru-baru ini kita rayakan, namun tradisi peringatan ini sudah dimulai sejak awal abad ke-20 atau di tahun 1900-an, ungkap Dosen kosentrasi Gender dan HI dari Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed Nuriyeni Kartika Bintarsari, SIP.,MA.,Ph.D.

Berawal dari aktivisme pergerakan perempuan di Amerika Serikat, terutama aksi perempuan pekerja pabrik dan pekerja sektor informal yang menuntut adanya jam kerja yang lebih pendek, kenaikan upah dan hak perempuan untuk memilih di Pemilihan umum. Aksi ini terutama diinspirasi oleh gelombang pertama Feminisme di Amerika Serikat dan Eropa, terutama dengan adanya the Seneca Falls Convention yang menghasilkan dokumen awal tuntutan kesetaraan gender, yaitu ‘Declaration of Sentiments.’ Gelombang pertama feminisme ini kemudian menginspirasi para aktivis perempuan dari Partai Sosialis di Amerika Serikat. Maka, untuk pertama kalinya ada peringatan Hari Perempuan, namun dengan level nasional, yaitu hanya di Amerika Serikat saja, yang kemudian diperingati pada tanggal 28 Februari dan berlangsung mulai dari 28 Februari 1909 sehingga 1913. Sementara itu, Austria, Jerman, Denmark dan Swiss merayakan IWD di tanggal 19 Maret sesuai kesepakatan di pertemuan aktivis perempuan di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 1911, yang berkembang ke beberapa wilayah lainnya termasuk Rusia dan Inggris. Hingga di awal tahun 1914, terjadi kesepakatan dari para aktivis bahwa IWD akan diperingati setiap tanggal 8 Maret tiap tahunnya untuk menyatukan gerakan perempuan internasional ini, jelas Yeni (sapaan akrab Nuriyeni Kartika Bintarsari, SIP.,MA.,Ph.D)

Selanjutnya Yeni (alumni S3: Rutgers the State University of New Jersey, USA) mengatakan bahwa mengapa peringatan IWD ini menjadi penting untuk kita ketahui dan pahami? Penting diketahui karena menjadi momen pengingat bahwa perjuangan perempuan untuk menjadi setara dengan laki-laki bukanlah perjuangan yang sebentar dan mudah, namun sudah bermula sejak lama. Bahkan jauh sebelum the Seneca Falls Convention di tahun 1848, ada tulisan dari Mary Wollstonecraft berjudul ‘ A Vindication of the Rights of Woman,’ diterbitkan tahun 1792, sebuah karya awal yang menegaskan perlunya kesetaraan pendidikan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Karya dan perjuangan awal dari aktivisme gerakan perempuan ini menginspirasi banyak perempuan di berbagai, tidak terkecuali tokoh emansipasi perempuan Indonesia, yaitu Kartini yang hidup di abad ke-19. IWD sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan gender masih terus berlangsung di seluruh dunia, yang sering kali harus ditempuh di tengah situasi politik, ekonomi, dan keamanan yang tidak ramah terhadap perempuan. Terlebih dengan makin menguatnya konfllik bersenjata di wilayah Timur Tengah, ditandai dengan serangan sepihak Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Nahasnya, serangan militer Israel ke Iran juga menyasar Gedung sekolah dasar khusus siswi, dan mengakibatkan kematian 153 siswi serta melukai 100 orang lainnya. Kekerasan yang menimpa pelajar perempuan ini sangatlah menyakitkan dan meskipun saat ini PBB telah mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1325 tentang Women, Peace and Security, namun perempuan dan anak-anak tetap menjadi korban terbesar dalam sebuah konflik militer. Contoh dari hal ini bisa terlihat  di Suriah, Irak, Afghanistan, Sudan, Somalia, Kongo, dan negara-negara lain.

Yeni (Pengurus AIHII/Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia) menambahkan bahwa solidaritas global menjadi sangat penting di era kontemporer ini. Hanya dengan solidaritas global, kita dapat menyelesaikan berbagai persoalan ketidakadilan yang ada serta menyelesaikan berbagai krisis ekonomi, sosial, politik, dan keamanan yang makin memperbesar kesenjangan gender yang ada.



Penulis      : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto            : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar