Mahasiswa Unsoed Selamat, (Mahasiswa Unsoed Magang di Jepang Alami Gempa Berpotensi Tsunami, Tetap Tenang Berkat Edukasi Kebencanaan)

Mahasiswa Faperta Unsoed di bandara Soekarno Hatta.

Purwokerto, Kafapet-Unsoed.com. Sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang tengah menjalani program internship di Jepang mengalami langsung guncangan gempa bumi pada hari Senin 20 April 2026 yang dilaporkan berpotensi tsunami. Peristiwa tersebut sempat memicu kewaspadaan, namun situasi di lapangan tetap terkendali, ungkap dosen ahli Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Unsoed Bayu Sensei (sapaan akrab Dian Bayu Firmansyah, S.Pd., M.Pd) yang juga sebagai mitra Mahasiswa Unsoed magang di Jepang saat bincang-bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Kamis 23 April 2026.

Bayu Sensei semasa S2 sempat ikut Exchange dan Mengerjakan Penelitian di Kanazawa University, Jepang menjelaskan bahwa berdasarkan rangkuman dari beberapa laporan media, gempa yang terjadi memiliki kekuatan signifikan dan sempat memicu peringatan dini tsunami dari otoritas setempat. Sistem peringatan melalui perangkat seluler juga diaktifkan untuk memberi tahu masyarakat agar tetap siaga terhadap kemungkinan dampak lanjutan.


Salah satu mahasiswa peserta internship di Jepang yaitu Puji Astuti dari Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian (Faperta) Unsoed angkatan 2022 yang sedang mengikuti magang di Taishou Kaneyama Bokujou, Co., Ltd., mengungkapkan bahwa ia pertama kali menyadari adanya gempa dari getaran yang cukup kuat di lingkungan kerjanya.

“Guncangannya lumayan kencang, sampai barang-barang yang digantung di perusahaan ikut bergerak. Saya juga sempat merasa sedikit pusing,” ujarnya.

Menariknya, notifikasi peringatan gempa di ponsel tidak langsung disadari Puji, karena perangkat HP tersebut ditinggalkan di loker saat istirahat. “Pas Puji buka HP, ternyata sudah ada notifikasi dan alarm gempa dari intansi/lembaga terkait gempa di Jepang,” tambahnya.


Berbeda dengan respons yang mungkin terjadi di Indonesia, suasana di lokasi kerja justru terbilang tenang. Tidak ada instruksi khusus maupun kepanikan dari pekerja setempat. “Waktu gempa terjadi, tidak ada perintah apa-apa. Semua orang tetap diam di tempat masing-masing,” jelasnya. Ia juga mengamati bahwa rekan kerja asal Jepang cenderung tidak menunjukkan kepanikan. “Mereka santai saja, bahkan tidak langsung berlindung.”

Menurutnya, sikap tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kebiasaan dan kesiapsiagaan masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana. Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki sistem mitigasi gempa yang sangat maju, termasuk standar bangunan tahan gempa yang ketat.

Puji juga menambahkan bahwa sebelum kejadian, para peserta internship telah mendapatkan pembekalan terkait kebencanaan.

“Perusahaan pernah mengadakan edukasi tentang gempa dan tsunami. Bahkan mendatangkan polisi untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan dan barang apa saja yang perlu disiapkan dalam kondisi darurat,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut turut mempengaruhi kondisi psikologis mahasiswa Unsoed saat gempa berlangsung. Ia mengaku tidak terlalu panik karena lingkungan sekitar juga tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

“Karena orang-orang di sekitar juga tidak panik, jadi kami ikut terbawa santai,” katanya.

Peristiwa ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa Unsoed dalam memahami secara langsung bagaimana budaya kesiapsiagaan bencana diterapkan di Jepang. Selain itu, hal ini juga memperlihatkan pentingnya edukasi dan sistem mitigasi yang baik dalam mengurangi kepanikan saat bencana terjadi, jelas Bayu Sensei yang memiliki pengalaman kerja di Jepang selama 3 tahun di perusahaan manufaktur di daerah Prefektur Shizuoka, kota Hamamatsu, Jepang.

Meski gempa berpotensi tsunami sempat memicu kewaspadaan, tidak dilaporkan adanya dampak besar di lokasi tempat mahasiswa Unsoed tersebut menjalani internship. Situasi pun berangsur normal setelah otoritas setempat memastikan kondisi aman, ujar Bayu Sensei yang pernah mendapatkan hibah penelitian Sumitomo Foundation dan Toyota Foundation.

Puji bersama ketiga rekannya yang tinggal di prefecture Akita mengalami langsung getaran gempa tersebut. Sedangkan dari 11 orang mahasiswa Faperta Unsoed lainnya yang magang di perusahaan Hanamaruki dan Myogi Nava Farm, di prefecture Gunma tidak merasakan getaran sama sekali sehingga tidak merasakan apa yang dirasakan oleh rekan-rekannya di prefecture Akita, kata Bayu Sensei yang sedang studi lanjut pada program studi S3 Unesa.

Berikut nama-nama Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsoed yang sedang Magang di Jepang : Adi Prabowo (Myogi Nava Farm, Agrotek), Ilham Pamuji (Myogi Nava Farm, Agrotek), Slamet Faatnurrohim (Myogi Nava Farm, Agrotek), (Galang Ramantaka, Myogi Nava Farm, Teknik Pertanian), Puji Astuti (Taisho Kaneyama Bokujo, Akita, Agrotek), Tisya Astiningtyas (Taisho Kaneyama Bokujo, Akita, Agrotek), (Rogokma Berutu, Taisho Kaneyama Bokujo, Akita, Agrobisnis), Putri Dwi Ariana (Taisho Kaneyama Bokujo, Akita, Teknik Pertanian), Muhammad Ghifari (Hanamaruki, Agrotek), Eka Nugraha (Hanamaruki, Agrotek), Faiza Shabira Fadhila Akmala (Hanamaruki, Agrotek) Destina Setyawati.(Hanamaruki, Agrotek), Yusi Kali Tasadaya (Hanamaruki, Agrotek), Hanna Fitria Wahdani (Hanamaruki, Teknik Pertanian), Yusriyyah Nabilafifah (Hanamaruki, Teknik Pertanian), kata Bayu Sensei (Pengurus Pusat Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia/ASPBJI).


Penulis   : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto         : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar