Dosen Unsoed Berbagi Cerita Menjalani Puasa di Australia Barat

Foto di Albany Wind Farm

Purwokerto, Kafapet-unsoed.com. Menjalani ibadah puasa sebagai minoritas Muslim di Australia Barat memberikan pengalaman yang menarik dan penuh dengan pelajaran tentang toleransi dan keberagaman. Sebagai mahasiswa di University of Western Australia (UWA) di Perth, Kiky merasa beruntung karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk Kiky bisa menjalankan ibadah secara optimal, ujar Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Kiky Srirejeki saat bincang-bincang jarak jauh dengan Ir.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com

UWA terkenal sebagai universitas yang akomodatif terhadap kebutuhan mahasiswa Muslim. Tersedianya mushola di kampus yang menyelenggarakan buka bersama dan taraweh bersama setiap malam adalah bukti konkret dari inklusi ini. Acara-acara seperti ini tidak hanya mempererat hubungan antar-Muslim di kampus tetapi juga membuka pintu bagi orang lain untuk belajar dan memahami bagaimana Islam dipraktekan, kata Kandidat Doktor University of Western Australia, Kiky Srirejeki.

Menurut Kiky tidak hanya di lingkungan kampus, masyarakat Australia Barat secara umum juga terbuka terhadap keberagaman. Mereka telah terbiasa dengan kehadiran orang dari berbagai negara dan budaya, sehingga toleransi terhadap perbedaan keyakinan agama cukup tinggi. Namun, meskipun demikian, masih ada tantangan yang harus dihadapi oleh minoritas Muslim dalam menjalankan ibadah mereka. Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan tempat ibadah, terutama masjid. Sebagai contoh, Kiky dan suami menghabiskan tiga hari pertama puasa tahun ini di Albany, sebuah daerah wisata yang terletak di ujung selatan Australia Barat. Di sana, hanya ada satu mushola yang terdaftar di Australian National Imams Council (ANIC), yaitu Albany Mushola.

Mushola satu satunya di Albany, Western Australia

Meskipun sederhana, Albany Mushola merupakan tempat yang sangat berarti bagi kami yang sedang berpuasa di daerah tersebut. Kiky dan suami berkesempatan untuk berbincang dengan Imam Nourman, yang melayani di mushola tersebut. Percakapan kami dengan Imam Nourman tidak hanya memberi kami pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan Muslim di daerah terpencil, tetapi juga menguatkan rasa solidaritas kami sebagai komunitas kecil dalam lingkungan yang beragam.

Kiky menambahkan bahwa pengalaman ini mengajarkan kami betapa luar biasanya berkah dan kenyamanan berpuasa di Indonesia, namun lebih dari itu bahwa meski kami mungkin menjadi minoritas, ada kesempatan untuk menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat sekitar dan untuk saling belajar dan memahami satu sama lain. Dengan terus memperkuat toleransi dan inklusi, kami yakin bahwa kami dapat menjalani ibadah kami dengan damai dan bahagia di mana pun kami berada, bahkan di ujung dunia sekalipun.


Penulis      : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Foto            : Ir. Alief Einstein, M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar