• PENGAJIAN BULANAN

    Tak kurang dari 30 anggota Kafapet se Jabodetabek Serang Sukabumi Cianjur (Sesuci) beserta keluarganya setiap bulan menghadiri pengajian bulanan di rumah alumni

  • Sarasehan dan Seminar Nasional Kafapet

    Bukti nyata Kafapet bukan sekedar forum silaturahmi melainkan juga ikut membahas masalah-masalah aktual di bidang peternakan

  • Kafapet Unsoed selalu aktif di forum Ka Unsoed

    Di Forum Keluarga Alumni Unsoed (Ka Unsoed), Kafapet sering menjadi pelopor dan peserta terbanyak. Antara lain pelopor kajian bulanan, peserta terbanyaj bedah buku Prof Rubiyanto dan lain-lain

  • Rapat Kordinasi Kafapet

    Munas, Rapat Kordinasi Nasional, Rapat Kordinasi Daerah adalah forum Kafapet Unsoed untuk membahas evaluasi dan program kerja Kafapet dan masalah lainnya

  • Mars Kafapet Unsoed

    Mars Kafapet wajib dinyanyikan pada acara resmi Kafapet di pusat dan daerah, antara lain acara temu alumni, seminar alumni, Munas, Musda, Rakornas dan sebagainya

Analogi "Segitiga Produksi" Untuk Kehidupan Kita (Opini Bambang Suharno)

Bambang Suharno
Salah satu pengetahuan yang paling melekat di benak saya ketika kuliah di Fakultas Peternakan Unsoed adalah perihal konsep Segitiga Produksi Peternakan. Sampai sekarang saya belum tahu siapa menemukan konsep ini, padahal ini satu hal yang sangat menarik.

Konsep segitiga produksi ini sederhana dan sangat mengena buat kalangan usaha peternakan. Intinya jika mau sukses beternak, cermati 3 hal ini, yaitu breeding, feeding, management. Tiga aspek ini harus seimbang dan seirama karena bentuk segitiganya harus sama sisi. Jika mutu genetik ternak kelas tinggi, maka dipastikan membutuhkan kualitas pakan tertentu dan manajemen pemeliharaan nomor satu.

Terinspirasi dengan konsep segitiga produksi yang simpel dan berlaku sepanjang masa (setidaknya sampai tulisan ini saya susun), saya mencoba mengadopsi konsep segitiga produksi ini untuk keperluan jalan sukses manusia. Saya akan coba analogikan konsep ini menjadi konsep baru segitiga sukses.

Pertama adalah breeding, yang dalam aspek kehidupan manusia identik dengan talenta atau bakat. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang tampak hebat dan terus terasah akan dikatakan sebagai bakat. Meskipun kuliahnya di bermacam fakultas, namun di setiap fakultas ada yang bakat menulis, menyanyi, melukis, mengajar , menyusun konsep dan sebagainya. Bakat ini menjadi modal yang bisa dipoduktifkan sesuai tujuan medan pengabdian kelak. Seorang insinyur yang pandai menyanyi tidaklah harus meninggalkan dunia keinsinyurannya untuk menjadi penyanyi. Kelak bisa saja sangat bermanfaat ketika jadi eksekutif yang bisa lebih dekat dengan publik karena bakat menyanyinya.

Kedua adalah feeding, dalam hal ini identik dengan makanan. Nah berbeda dengan hewan ternak, makanan yang dibutuhkan manusia  ada dua jenis yaitu makanan untuk leher ke bawah alias berupa makanan untuk perut dan makanan untuk leher ke atas alias makanan untuk otak. Makanan untuk otak berupa proses belajar di sekolah dan luar sekolah. Latihan sofskill melalui aktivitas organisasi sekolah, pramuka dan lain-lain juga termasuk makanan untuk otak. Pandai-pandailah untuk mengelola makanan untuk perut dan otak, agar sehat dan terus berkembang karirnya. Makanan penting untuk otak bukan hanya pendidikan formal tapi adalah pergaulan yang baik, pikiran-pikiran positif untuk membangun optimisme.

Ketiga adalah manajemen. Kita punya keunggulan tertentu, lalu dikembangkan melalui berbagai pendalaman ilmu, pengalaman lapangan dan pergaulan yang luas. Setelah itu apa? Kita perlu menjalankan manajemen diri (self management). Orang genius jika tidak mengelola dirinya dengan baik, bisa terjebak pada kesulitan menghadapi kehidupan . Di AS pernah terjadi seorang pelajar yang dikenal paling pintar menembak gurunya hingga meninggal karena guru itu memberi nilai jelek dalam satu mata pelajaran. Tak sedikit pula di lingkungan kerja ada karyawan yang lulusan terbaik tapi dijauhi rekan-rekannya karena mudah sekali bertengkar dengan rekan kerja bahkan dengan atasannya.

Manajamen dalam aspek pengelolaan perusahaan biasanya meliputi ada 4 hal, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan koreksi. Perencanaan diawali dengan menetapkan target apa yang akan dicapai.

Begitupun dalam manajemen diri. Stephen R Covey, penulis yang terkenal dengan bukunya "Seven Habit of Highly Effective People" menyarankan agar dalam mengelola diri , sebaiknya dimulai dengan menetapkan titik akhir perjalanan hidup. Petuahnya yang sangat terkenal, mulailah dari akhir.

Islam juga mengajarkan bahwa orang yang cerdas adalah yang banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati. 


Bisa dipersepsikan juga bahwa orang yang cerdas adalah yang dapat mengelola diri mau jadi apa di dunia dan dikenang baik sebagai apa kelak ketika sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Hidup ini tidaklah  lama, maka manajemen diri dengan mulai memikirkan tentang akhir hidup kelak akan dikenang sebagai apa, adalah sangat penting. Dari situlah kita dapat mengelola hidup dengan fokus yang baik. Motivator Arvan Pradiansyah mengatakan, Tuhan menciptakan apapun di dunia tidaklah ada yang sia-sia. Mengirimkan kita ke bumi ini juga pasti ada maksud-Nya. Maka pikirkanlah, kira-kira Tuhan menghendaki peran apa di bumi ini. Kita punya talenta, kemampuan, ilmu, pengalaman, pergaulan, itu semua menjadikan kita mampu berperan banyak.

Jangan sia-siakan waktu hidup ini. Berperanlah yang terbaik dimanapun Anda berada. Itu adalah bagian dari manajemen diri.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga meningkatkan kualitas taqwa. Aamiin.

Bambang Suharno. Alumni Fapet Unsoed sks 85. 1440/pt





Share:

Ketika Jas Rektor Unsoed Dikomentari

Fakultas Peternakan Unsoed dalam Catatan Rektor Rubiyanto Misman

Catatan-catatan mengenai Fakultas Peternakan Unsoed ini adalah catatan dalam kisah hidup Rektor Prof Rubiyanto Misman yang menjadi rektor dua kali masa jabatan
jabatan (1997-2001 dan (2001-2005). Catatan-catatan ini termuat dalam buku Biografi Rubiyanto Misman MEMENUHI PANGGILAN ALMAMATER, Biografi Rubiyanto Misman; Mahasiswa Unsoed Pertama - Alumnus Pertama - Pendiri dan Ketua Pertama Ikatan Alumni Unsoed - Dekan Alumnus Unsoed Pertama - Rektor Alumnus Unsoed Pertama. Buku ditulis oleh Sutriyono, alumni Fapet Unsoed.


Sekilas Awal Unsoed
Universitas di tlatah Banyumas ini lahir dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 195 tahun 1963 bertanggal 23 September 1963. Universitas tersebut terdiri dari Fakultas Pertanian yang semula cabang dari Universitas Diponegoro, Fakultas Biologi dan Fakultas Ekonomi.
Dalam catatan yang ada, dalam Keputusan Presiden tersebut, menyebutkan bahwa Presiden Republik Indonesia memutuskan menetapkan terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1963 mendirikan universitas negeri yang diberi nama Universitas Negeri Jenderal Soedirman.
Keputusan tersebut disusul dengan Surat Keputusan Menteri PTIP tanggal 12 November 1963 nomor 153 tahun 1963. Sementara upacara peresmian universitas baru ini dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1963. Universitas diresmikan oleh Menteri PTIP Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwidjaja dan dihadiri sejumlah pejabat sipil dan pejabat militer seperti Jenderal AH Nasution dan Letjen Ahmad Yani. Hadir juga keluarga Jenderal Soedirman serta para mahasiswa.
Pimpinan universitas menggunakan model presidium. Secara kolektif sejumlah lima orang tergabung dalam presidium ini. Mereka adalah R. Soemardjito, Letkol Soegiharto, R. Soeroso, Ajun Komisaris Besar Polisi R Kriharto, dan Dr. H.R. Benjamin. Dr. H.R. Boenjamin juga menjadi dekan bagi Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian. Sementara dekan Fakultas Ekonomi dijabat oleh Drs. Soepojo, MA.
Pada 10 Februari 1966, Unsoed memiliki Fakultas Peternakan. Fakultas ini merupakan pelimpahan dari Fakultas Peternakan Universitas Islam Indonesia Cabang Yogyakarta di Purwokerto (SK Menteri PTIP , 3 Desember 1965 nomor 275 tahun 1965). Menyusul tahun akademik 1981/82 Unsoed menerima mahasiswa Fakultas Hukum yang kemudian resmi berdiri tahun 1982 (Keputusan Presiden Nomor 50/1982).
Model presidium berganti dengan rektor pada 3 Juli 1965. Rektor pertama adalah R.F. Soedardi SH yang kala itu berpangkat Kolonel CHK.  
Hingga tahun 80-an awal itu Universitas Jenderal Soedirman lima  fakultas dan tiga program diploma. Kelima fakultas tersebut adalah Fakultas Pertanian, Fakultas Biologi, Fakultas Peternakan, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum. Sementara tiga program diploma tersebut adalah Diploma Pendidikan Ahli Administrasi Keuangan, Diploma Pendidikan Ahli Kesekretariatan, Diploma Pendidikan Ahli Produksi Ternak Unggas dan Perah.

Patung Jenderal Soedirman berkuda di halaman Kantor Pusat Unsoed (foto Sutriyono, 17 Juni 2017)

Pada tahun 1980 sampai tahun awal tahun 90-an, sebagai universitas pamor Unsoed kalah dengan universitas besar lain di Jawa. Universitas negeri di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya telah punya nama. Unsoed menjadi pilihan ke sekian dari siswa-siswi lulusan SMA yang melanjutkan kuliah.


Fakultas Peternakan Mendongkrak Nama Unsoed
(Sebuah Pintu Bernama QUE)
Tidak mudah bersaing dengan perguruan tinggi lain yang telah lebih lama berkembang. Rubiyanto Misman sering menggunakan parabel kancil melawan gajah. Bagaimana bisa menang kalau kancil selalu dihadapkan dengan gajah-gajah. Ada kecenderungan kebijakan pembinaan termasuk penyediaan dana-dana pengembangan perguruan tinggi didasarkan pada kompetisi untuk semua. Tanpa pengelompokkan berdasarkan kemampuan entah akademik, entah lainnya. “Kalau kami yang kancil ini selalu bersaing dengan Gajah Mada, ‘gajah’ UI, ‘gajah’ ITB, ‘gajah’ Unair, dan gajah-gajah lainnya, bagaimana kami bisa menang?” begitu Rubi sering bertanya.

Rupanya, ‘kampus kancil’ itu kemudian mendapatkan jalan. Pintu menuju jalan tersebut bernama Proyek QUE. Quality for Undergraduate Education atau QUE adalah program hibah kompetisi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.

Proyek QUE berlatar belakang kualitas pendidikan tinggi banyak yang berada di bawah kualitas internasional. Lulusan S1 perguruan tinggi Indonesia menjadi sulit bersaing di kompetisi dunia kerja internasional. Sementara banyak program studi yang memiliki potensi yang cukup untuk menyiapkan diri mengejar kualitas internasional tersebut. Melalui program block grant, pemerintah lewat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberikan dana hibah untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu program studi di perguruan tinggi. Dana hibah tersebut terbuka untuk semua program studi, hanya saja melalui sistem kompetisi dengan persyaratan yang ketat.

Unsoed mengajukan Program Studi Produksi Ternak Fakultas Peternakan untuk mengikuti kompetisi meraih dana hibah proyek QUE ini. Proyek QUE yang diikuti adalah proyek yang ke dua (QUE Batch II). Selama satu tahun tim yang dipimpin
Ir. Imam Suswoyo, M.Agr.Sc. menyiapkan proposal dan persyaratan pengajuan QUE. Persiapan berlangsung siang dan malam. Seleksi proposal yang masuk DIKTI dilakukan antara April 1998 hingga tuntas Oktober 1998.

Prodi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Unsoed menjadi satu dari 14 prodi yang menang. Sementara jumlah proposal yang masuk adalah 245 proposal. Pelaksanaan proyek QUE ini berlangsung dalam jangka waktu lima tahun.

“Yang sangat mengesan bagi kami, ketika kami lembur siang malam menyiapkan proposal QUE ini, suatu malam Pak Rubi datang menengok. Naik sepeda motor. Tahu-tahu sudah di depan pintu,” kata Imam Suswoyo.

“Saya datang hanya untuk memberi semangat,” ujar Rubi.

Sejumlah 14 program studi yang mendapatkan Proyek QUE Batch II tersebut berasal dari delapan perguruan tinggi. Selain Unsoed, tujuh perguruan tinggi yang menang adalah perguruan tinggi yang memiliki nama besar, yaitu UGM (tiga prodi), IPB (dua prodi), ITB (tiga prodi), UI (dua prodi), Universitas Padjajaran (dua prodi), dan Institut Teknologi Sepuluh November (satu prodi).

Parabel tentang gajah kembali muncul dalam imajinasi Rubi. Inilah untuk kali pertama Unsoed yang kecil itu duduk sejajar dengan universitas gajah-gajah.

Pada kesempatan resmi menerima keputusan Proyek QUE Batch II tersebut, Rubi datang dengan setelan jas hitam yang rapi. Perwakilan dari perguruan tinggi lain juga mengenakan jas rapi seperti dirinya. Keseharian Rubi, saat berkantor, mengenakan pakaian formal biasa tanpa jas. Kadangkala Rubi mengenakan ‘baju kerja’ model pelayan SPBU (w
earpark). Pada giliran Dirjen DIKTI Bambang Hendro menyalami, beliau berseloroh,”Lho, sombong banget, proyek belum turun sudah mengenakan jas.”

Rubi
tersipu-sipu oleh ungkapan yang sebenarnya menunjukkan kedekatan pribadi antara dua orang itu. “Aja ngece Pak, kiye jas enyong dewek, koh. (Jangan ngledek, ini jas punya saya sendiri),” kilah Rubi tidak kalah tangkas.

Apa yang menjadi impian Rubi dan Unsoed pada umumnya untuk bisa sejajar dengan perguruan tinggi yang lain mendapatkan jalan. Proyek QUE Batch II tersebut memberikan banyak perbaikan dalam hal kualitas pendidikan.





Dari proyek tersebut Prodi Produksi Ternak Fakultas Peternakan berhasil memberi kesempatan sembilan dosen menyelesaikan program doktoral (S3). Delapan orang di antaranya menjalani studi di luar negeri. Ketentuan dana Proyek QUE adalah 60% dialokasikan untuk mendukung studi dosen, 40% lainnya untuk sarana-prasarana. Prodi juga memperbaiki kurikulum, mendorong dan memfasilitasi dosen selalu membarui bahan kuliah, dan juga belanja buku-buku literatur serta jurnal ilmiah. Setiap tahun Ditjen DIKTI mengutus tim untuk meninjau lapangan. Mereka bisa saja ikut duduk di bangku kuliah mencermati cara dosen mengajar. Pada kesempatan lain ada tim dari luar negeri yang juga datang. Mereka memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar memenuhi standar internasional.
Dengan lolosnya Unsoed dalam program kempetisi proyek QUE Batch II ini, kepercayaan Ditjen DIKTI terhadap Unsoed semakin tinggi. Waktu-waktu selanjutnya Unsoed kembali dipercaya untuk mengimplementasikan proyek-proyek lain dari Ditjen DIKTI seperti DUE, DUE-Like, TPSDP, dan Program Hibah Kompetisi. Sejalan dengan hal tersebut, kepercayaan masyarakat juga meningkat.

Share:

Hernani Filomena Coelho da Silva ; Alumni Fapet Unsoed Menjadi Menteri di Timor Leste

Hernani, Alumni Unsoed akhirnya jadi Menteri
Setelah lebih dari 25 tahun meninggalkan  Kampus Fapet Unsoed, diperoleh kabar bahwa alumni D3 Fapet sks 86 yang juga mantan wartawan Infovet itu dipercaya sebagai Menteri Petrolium Timor Leste, setelah sebelumnya menduduki jabatan Menteri Luar Negeri.  Sebuah kebanggaan bagi keluarga alumni Fapet Unsoed, karena ia adalah alumni Unsoed pertama yang menduduki posisi Menteri.

Tahun 1992, seorang  pemuda yang baru meraih gelar sarjana  peternakan  hijrah ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan. Sebagai sarjana baru asal provinsi Timor Timur  (sekarang Negara Timor Leste) yang waktu itu dikenal sebagai provinsi paling dimanja pemerintah pusat, ia bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan di Pemda Timtim. Namun ia memilih mencari pengalaman kerja di ibu kota. “Saya ingin cari pergaulan yang luas di Ibu Kota,” ujarnya.

Sebelumnya  ia sempat bertemu dengan wartawan Infovet Bambang Suharno di acara Munas Ismapeti (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia) dimana tuan rumahnya waktu itu adalah Unisma (Universitas Islam Malang) . Bambang mengajak bergabung dengan Infovet yang merupakan majalah yang baru terbit tiga bulanan.

Baru beberapa bulan berkarya di Infovet, Pemda Timtim memanggilnya untuk pulang kampung. Sebagai warga yang mendapat beasiswa Pemda, ia wajib memenuhi panggilan untuk berkarya di Pemda. Ia pamitan dan segera memenuhi undangan ke Pemda, meskipun menurut pengakuannya masih betah di Jakarta untuk lebih banyak bergaul dengan komunitas peternakan. Saat di Infovet ia mengaku bangga bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh penting di bidang peternakan, antara lain A. Karim Mahanan (Ketua Umum ASOHI), Jendral (purn) M Kharis Suhud (Ketua MPR, dan Ketua Forum Masyarakat Peternakan Indonesia), Dr Drh Soehadji (Dirjen Peternakan) dan lain-lain.

Kini, setelah lebih seperempat abad berlalu, sosok alumni Fapet yang semasa mahasiswa aktif sebagai pengurus senat mahasiswa, Menwa dan sejumlah kegiatan lainnya itu ,  menduduki posisi penting , sebagai Menteri Petroleum Timor Leste, yang diangkat per 3 Oktober 2017 lalu oleh Presiden ke-4 Timor Leste, Fransisco Guterres atau Lu Olo. Ia adalah Hernani Filomena Coelho da Silva, yang sejak kuliah dikenal dengan nama akrab Hernani.

Jabatan penting di pemerintahan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya ia menjadi Menteri Luar Negeri (2015-2017), Duta Besar Timor Leste di Australia dan berbagai jabatan lainnya di pemerintahan sebuah negeri yang pernah menjadi bagian dari Indonesia itu.

Karir dan Pendidikan

Sedikit menilik tentang perjalanannya,  Hernani, mengawali pendidikan sekolah dasarnya dan asrama Katolik di Ainaro (1971-1975). Pada Agustus 1975, ia mendaftarkan diri di Catholic College, Externato Bispo de Medeiros, di Ibu Kota Kolonial Portugal negeri itu, yakni Dili. Setelah beberapa waktu, Ia memutuskan meninggalkan Timor Leste melanjutkan ke Sekolah Pertanian Pembangunan/Sekolah Petenakan Menengah Atas (SPP-SNAKMA) di Magelang dan kemudian kuliah D3 Program studi Ternak Unggas dan Perah  (PTUP) Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed (1986-1989) .

Hernani (kanan) mengenakan baret Menwa dari Teguh Sudaryatno (kiri) sebagai wujud kebanggaan sebagai alumni Menwa Unsoed
Penghobi olah raga beladiri itu di bangku kuliah D3 PTUP cukup aktif sebagai pengurus Senat Mahasiswa (sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa/BEM), Resimen Mahasiswa (Menwa) serta kegiatan kemahasiswaan lainnya serta menjadi asisten dosen (1988-1989).

Sebagai putra  daerah yang dekat dengan  Sang Gubernur Timor-Timur saat itu, Mario Vegas Carascalao, Hernani yang kini telah berputera satu, saat itu berkesempatan untuk menempuh jenjang Strata-1 dengan kuliah di Fapet Universitas Islam Malang (1989-1992). Setelah mendapat gelar sarjananya, ia bergabung bersama Majalah Infovet sebagai wartawan  sekaligus membantu kegiatan kesekretariatan ASOHI dalam kurun waktu 1992 hingga awal 1993, sebelum akhirnya harus kembali ke Dili bekerja di Dinas Peternakan, dan tak lama kemudian ia bertolak ke Portugal (1994).

Setahun berselang, ia memperdalam pendidikan ekonomi Universitas Macau (1995-1999), sebelum bekerja sebagai peneliti di Institut of Agrarian Research, Portugal (1999-2001). Dua tahun bekerja sebagai peneliti, ia kemudian pindah ke United Nations Development Programme (UNDP) Timor Leste yang bertanggung jawab atas pekerjaan sosial, pelatihan dan perwakilan hak-hak pekerja staf PBB Timor Leste (2002). Hanya butuh waktu dua tahun (2003-2005) ia diangkat menjadi Kepala Bagian Manajemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam UNDP.

Empat tahun di UNDP, menarik minat Menteri Luar Negeri Timor Leste kala itu untuk merekrut Hernani menjadi Managing Director untuk Hubungan Bilateral di Kementerian Luar Negeri Timor Leste (2005), dan pada (2006-2009) ia  diangkat sebagai Duta Besar Timor Leste untuk Australia dan New Zeland. Karir kepemerintahannya semakin mantap kala ia menjadi Wakil Ketua Delegasi Luar Negeri Timor Leste (2010-2012), dan kembali menjadi Duta Besar Timor Leste untuk Republik Korea (2013-2015). Dua tahun kemudian, akhirnya ia dipercaya menduduki jabatan Menteri Luar Negeri Timor Leste (2015-2017), sebelum akhirnya menjabat Menteri Petroleum Timor Leste (2017-sekarang).

Dalam catatan redaksi kafapet-unsoed.com, Hernani adalah alumni Unsoed pertama yang menduduki posisi jabatan Menteri.

Komitmen Terhadap Alumni Fapet Unsoed

Dari kiri : Erie Sasmita, Ign Haryanta, Agus Kadarisman, anonim, Teguh Sudaryatno dan Hernani
Pria kelahiran Uatucarbau, Portugis Timor, 27 Agustus 1964 ini mengaku sangat mencintai almamaternya, Fapet Unsoed. Hal itu ia ungkapkan kala ia bersua dengan delegasi alumni Fapet Unsoed yang berkesempatan hadir ke Timor Leste beberapa waktu lalu yaitu Agus Kadarisman, Teguh Sudaryatno, Erie Sasmita, Ign Haryanta. Ia sangat bangga menceritakan pengalaman masa kuliahnya dulu, dan yang paling berkesan baginya adalah ketika mengenakan Baret Menwa (Resimen Mahasiswa) Unsoed. Menteri Hernani Coelho saat mahasiswa aktif di Menwa Yon 904 Unsoed. Bersama dengan Prof Dr Ade Maman Suherman (Saat ini Dekan Fakultas Hukum Unsoed), Hernani ikut Diksar Menwa di Puslatpur Klaten tahun 1987.

Bertemu dengan  delegasi Alumni Fapet Unsoed membuatnya sangat ingin menghadiri acara reuni Pulang Kandang maupun menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis Unsoed. “JIka tidak terbentur dengan kegiatan kenegaraan, saya akan hadir di acara Dies Natalis Unsoed,” janjinya kepala Teguh Sudaryatno, Bagus Pekik, Agus Kadarisman dan Erie Sasmita yang merupakan delegasi Alumni Fapet Unsoed.

Ia pun menyatakan, apabila pada kabinet mendatang ia tidak lagi memangku jabatan di Departemen Luar Negeri Timor Leste, yang biasanya memiliki agenda padat, ia pun memastikan akan hadir pada kegiatan almuni Unsoed.

Peluang Investasi di Timor Leste
Ning Rachmawati bertemu Hernani saat kunjungan ke Timor Leste

Semenjak Timor Leste berpisah dari Indonesia 19 tahun silam, diakui Hernani, merupakan pengalaman yang berat bagi negaranya, khususnya dalam mengangkat kesejahteraan masyarakat. Ia mengungkapkan, banyaknya persoalan membuat negaranya harus bekerja ekstra keras agar bisa sejajar dengan negara-negara lain di Asean. “Namun di satu sisi, ini merupakan peluang baik bagi negara tetangga termasuk Indonesia untuk menanamkan investasinya,” paparnya.

Ia mencontohkan, seperti invetasi yang dilakukan negara Tiongkok, yakni mengirimkan kebutuhan barang konsumsi untuk Timor Leste. Investasi lain yang ia harapkan adalah, Indonesia bisa menggarap peluang  pengembangan peternakan di Timor Leste, sebab tahun ini negaranya sudah menjalankan impor sarana produksi peternakan dari Jawa Barat.

“Semoga perusahaan-perusahaan peternakan dari Indonesia bisa berinvestasi di sini, dan kita bersedia untuk membantu dalam hal perizinan,” tukasnya. (RBS/Darma/Bams)

Sumber : diolah dari artikel majalah infovet 

Share:

Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA)

Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) merupakan program beasiswa khusus untuk mahasiswa perguruan tinggi yang dicanangkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk.
CPBSA merupakan bentuk pemberian apresiasi terutama untuk para mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan, serta para mahasiswa dari jurusan terkait dengan industri peternakan.

Kriteria Calon Peserta CPBSA :


  • Terbuka untuk mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan.
  • Calon peserta CPBSA memiliki prestasi secara akademik dengan IPK min 3.01 dan aktif dalam organisasi dan social
  • Menguasai Bahasa Inggris dengan baik (bisa Bahasa internasional lainnya menjadi nilai lebih)
  • Memiliki kemampuan komunikasi intrapersonal dan interpersonal dengan baik
  • Memiliki kemampuan menulis dengan baik (karya tulis ilmiah dan popular)
  • Berkepribadian terbuka, percaya diri, menghargai perbedaan, kreatif, dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar
  • Bersedia mengikuti pelatihan magang selama < 2 bulan di tempat yang telah ditetapkan oleh penyelenggara CPBSA
  • Bersedia mengikuti studi banding ke luar negeri dan melengkapi semua dokumen yang diperlukan
  • Mengikuti dan mematuhi semua tata aturan program CPBSA yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara

Persyaratan (wajib) :


  1. Peserta mengirimkan CV (identitas diri), Surat Rekomendasi dari Fakultas (Dekan), apabila ada sertifikat atau lembar penghargaan, portofolio dilampirkan bersama CV. 
  2. Mengirimkan video ‘WHY ME” (konten video menggambarkan mengapa penyelenggara harus memilih anda untuk menjadi calon peserta) video yang penuh kreativitas dan menunjukkan rasa percaya diri akan menjadi nilai lebih. Format video MP4, durasi maksimal 7 menit.
  3. Memfollow semua akun media social CPBSA, sebagai berikut :
          a. Instagram : @cpbsa.cpi
          b. YouTube : CPBSA CPI
          c. LinkedIn : CPBSA CPI

    4. CV, Portofolio, dan Video Why Me dikirimkan ke alamat email : cpbsa.cpi@gmail.com.
        subject : Nama – Universitas (CPBSA Batch II), sebelum tanggal 28 Mei 2018

Reward :

  • Tour ke China
  • Kesempatan berkarir di CPI



Share:

Antara Ramadhan, Database, Kalkulator dan Pembangunan Masjid. (Opini Roni Fadilah)

Ini judul tulisan memang rada panjang dan mumetin. Apa hubungannya antara Ramadhan, Database Alumni, Kalkulator dan Pembangunan Masjid di Fapet Unsoed?

Sebenarnya kalau disebut nggak  ada hungannya ya memang nggak ada, tapi kalau dipaksa-paksa dihubungkan  ternyata sangat erat sekali. Kok bisa?

Mari kita runut satu-satu, mulai dari menyatukan persepsi dahulu.

1. Ramadhan yaitu salah satu bulan di tahun hijriah di mana kaum muslim melakukan ibadah puasa (tentunya yang wajib melakukannya yang telah memenuhi persyaratam sesuai syariah).
2. Database disini didefinisikan sebagai data dasar Alumni Fapet Unsoed yang berisi informasi data pribadi dan  lainnya yang dicatat dan disimpan dalam media penyimpanan.

3. Kalkulator, semua sudah  tahu, alat untuk menghitung angka baik penjumlahan, perkalian dan sebagainya. Hasil dari hitungan kalkulator adalah pasti, jika tidak,  berarti error.

4. Pembangunan Masjid yaitu pembangunan masjid yang akan dan sedang dikerjakan di Kampus Fapet Unsoed.

Ceritanya kita persingkat langsung ke point 4.
Apakah pembangunan masjid sudah selesai dikerjakan? Habis berapa biayanya? Dananya dari mana saja?

Jawabannya tersebut dijawab dengan berurutan : belum, berdasarkan proposal dari Panitia Pembangunan masjid total biaya Rp 1.023.932.934,25 (supaya mudah,  dibulatkan Rp 1 milyar), terbuka untuk siapa saja baik alumni, mahasiswa, dosen ataupun pihak lainnya.

Kok belum selesai? Kenapa?

Dijawab lagi : Iya, karena baru peletakan batu pertama tgl 2 Mei 18 kemaren dan Dana yang terkumpul masih jauh di bawah Rp 500 juta.

Alhamdulillah... Kok Alhamdulillah? Dana yang terkumpul masih jauh dari harapan dan Masjid juga belum selesai.

Mari kita sambungkan satu per satu uraian di atas yaitu point 1 s/d 4.

Kenapa kita perlu bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah? Ternyata kesempatan kita untuk berwakaf, berinfak atau beramal sholeh dengan menyisihkan sebagian rezeki kita masih terbuka lebar, sangat lebar. Sebelum bulan Ramadhan kita tidak sempat, pas bulan Ramadhan ini baru sempat.

Dan jika itu benar-benar diniatkan dan dikerjakan, tidak terbayang "Keuntungan Bisnis" yang akan diperoleh jika "Berbisnis" dengan Allah Ta'ala. Sebagai ilustrasi, pada bulan di luar ramadhan saja, jika Rp 1 kita berikan untuk wakaf/infak/sedekah atau untuk kebaikan lainnya, akan dijanjikan dibalas dengan 7 batang pohon, yang setiap batang pohonnya ada 100 cabang. Jadi dibalas dengan 700 kali lipat. Kalau amal kebaikan dilakukan di bulan Ramadhan? Ternyata dilipat gandakan lagi.

Dalam hitungan pasti, Kalkulator masih bisa menjawab, tapi kalau dengan hitungan yang dijanjikan Allah Ta'ala yaitu "dilipat gandakan", kalkulator "tidak bisa mengeluarkan angka", dan hanya Allah Ta'ala yang bisa "Menjawab dan Menghitungnya".

Apa hubungannya dengan database?

Begini ceritanya, konon infonya Fapet Unsoed dari mulai berdiri sampai sekarang telah menghasilkan "Alumni" lebih dari 8000 orang. Angka yang cukup lumayan banyak. Jika data ini dihubungkan antara bulan Ramadhan dan Pembangunan Masjid di kampus Fapet Unsoed, ternyata, Kampus sedang memberikan peluang "Ladang Ibadah" di bulan Ramadhan untuk beribu-ribu Alumninya yang telah tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Kesempatan ini jarang terjadi, dengan perhitungan matang Panitia Pembangunan Masjid memberikan kehormatan tertinggi untuk Alumni Fapet Unsoed untuk berlomba lomba  "Berbisnis" dengan Allah Ta'ala.

Wah, kalau berlomba-lomba tidak adil dong. Bisa jadi ada Alumni yang tidak kebagian untuk berwakaf atau berinfak.

Kalau begitu, Mari kita minta bantuan Kalkulator untuk menjalankan tugasnya. Seandainya yang dipakai parameter "Adil" itu adalah sama rata besaran Rupiahnya per Alumni. Di bawah ini ada beberapa asumsi besaran wakaf atau infak yang dipersembahkan untuk alumni Fapet Unsoed dalam rangka pembangunan masjid sampai berdiri dengan megahnya sesuai yang direncanakan oleh Panitia, sbb :

Jika data yang dipakai 8000 alumni, beberapa asumsinya adalah :

  1. Jika 100℅ alumni terlibat, berarti per Alumni secara bersama berinfak sebesar Rp 125.000 (Perhitungan ini, sangat kecil kemungkinan bisa terjadi)
  2.  Jika 75 ℅, Rp 167.000 per alumni (kecil kemungkinan terjadi)
  3.  Jika 50 ℅, Rp 250.000 per alumni (mungkin terjadi)
  4.  Jika 25 ℅, Rp 500.000 per alumni (peluangnya besar terjadi)
  5.  Jika 10 ℅, Rp 1.250.000 per alumni (bisa terjadi)

Jadi mau berapapun per hitungan Alumni yang terlibat, kalkulator bisa menghitungnya.

Akan tetapi, apa yang terjadi sekarang ini? Fakta menunjukkan, proposal sudah dihitung oleh papanitia secara rinci dari mulai anggaran, gambar masjid dan team pelaksananya. Tapi dana yang terkumpul masih belum dari harapan. Adakah yang salah?
Database alumni tidak akurat kah? Atau Kalkulator yang rusak?

Kembali ke sebelah otak "positive thinking",  kemungkinan Alumni bergerak untuk berwakaf atau berinfak ria saat bulan Ramadhan ini, seperti yang telah diuraikan di atas. Masalah data based yang kurang valid, satu sisi mungkin ada benarnya juga, karena sampai saat ini belum ada database Alumni Fapet Unsoed terkini yang akurat. Ketidak akuratan ini membuat apa yang telah dihitung dengan kalkulator tidak pernah sama dengan realita dana yang diterima oleh panitia.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan ini, supaya perhitungan dengan Kalkulator, dan data yang ada bisa "matching" dengan  dana yg terkumpul. Pengurus Keluarga Alumni Fapet Unsoed telah berusaha mendata ulang Alumni dengan cara mengisi form di www.kafapet-unsoed.com, serta terus menerus mempublikasikan tentang pembangunan masjid di kampus Fapet Unsoed tercinta.

Jadi, mumpung sekarang bulan Ramadhan, di depan mata ada ladang yang sangat terbuka untuk berwakaf/berinfak untuk pembangunan masjid di kampus Fapet Unsoed. Mari berwakaf atau berinfak, sebarkan ladang amal shaleh ini ke setiap alumni yang ditemukan, everybody's become sales. Makin cepat berdirinya masjid, makin bagus.

Dana untuk wakaf/ infak bisa ditransfer langsung ke Panitia Pembangunan masjid (ada di proposal pembangunan masjid di www.Kafapet-unsoed.com, bisa melalui kepengurusan Kafapet Wilayah masing-masing, atau melalui penggalangan dana per angkatan.

Penulis Opini : Roni Fadilah, Ketua Kafapet JabodebekSuci

Ditulis dan diedit di hari pertama bulan Ramadhan, 17 Mei 2018
Share:

Terkait Teror, Pengurus Pusat KAUNSOED Himbau Para Alumni Amalkan Semangat Jenderal Soedirman

Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (PP-KAUNSOED) menghimbau kepada seluruh Keluarga Alumni Unsoed di mana pun berada dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk tidak terpancing isu SARA sehingga tujuan pelaku teror untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak tercapai.  Demikian salah satu butir pernyataan sikap PP-KAUSOED yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP-KAUNSOED Haiban Hadjid dan Sekjen Erie Sasmito, Minggu 13 Mei 2018 beberapa saat setelah tersiarnya kabar terjadinya ledakan bom di 3 gereja di Surabaya.

PP-KAUSOED menyatakan simpati, empati dan duka cita mendalam kepada korban teror Bom di Surabaya, yang menyebabkan keluarga kehilangan anggota keluarganya. Semoga diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi musibah ini.

Ada 6 butir pernyataan sikap PP-KAUNSOED yang beredar di beberapa group whatsapp alumni. Kepala Departemen Humas PP-KAUNSOED Alief Einstein mengungkapkan, pernyataan sikap telah dikirim ke sejumlah media dan beberapa media telah memuatnya antara lain sindonews, Banyumasnews dan sebagainya.

Para alumni Unsoed di berbagai medsos pada umumnya menyambut baik pernyataan sikap PP-KAUNSOED sebagai wujud kepedulian terhadap situasi negara.

Kepada redaksi kafapet-unsoed.com Haiban secara khusus menyampaikan himbauan agar alumni Unsoed selalu menjaga dan mengamalkan semangat Jenderal Soedirman. " Pantang mundur, berbakti sepenuh hati, menjaga  NKRI," tegas Haiban.

Pernyataan Sikap

Berikut ini naskah lengkap 6 butir pernyataan sikap PP-KAUNSOED:

1. Simpati, empati dan duka cita mendalam kepada korban teror Bom di Surabaya, yang menyebabkan keluarga kehilangan anggota keluarganya. Semoga diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi musibah ini.

2. Mengecam keras aksi teror bom yang terjadi di sejumlah gereja di Kota Surabaya yang menimbulkan korban jiwa, sebagai bentuk tindakan yang tidak bertanggung jawab, tidak berperi kemanusiaan dan bertentangan dengan ajaran agama apapun.

3. Menghimbau warga Surabaya khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk tidak takut dengan ancaman teror.

4. Meminta kepada aparat keamanan untuk bersikap tegas dan mengusut tuntas serta menindak pelaku teror tersebut, agar kejadian yang sama tidak terulang di mana pun di masa yang akan datang.

5. Menghimbau kepada seluruh Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman di mana pun berada dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk tidak terpancing isu SARA sehingga tujuan pelaku teror untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak tercapai.

6. Marilah kita merapatkan barisan agar teror semacam ini tidak akan pernah terjadi di Tanah Air tercinta.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan kepada kita semua.

JAKARTA, 13 Mei 2018

Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Soedirman

Ketua Umum
Haiban Hadjid

Sekretaris Jenderal
Erie Sasmito

Share:

Yuk Bertani di Gunung Hambalang Bersama Alumni Fapet Unsoed

Aries Teguh Wibowo
Merencanakan liburan dengan berwisata?  Yuk ke taman Eduwisata Gunung Hambalang.  Sebuah taman edukasi yang dikembangkan perusahaan semen, PT Indocement  Tunggal Perkasa Tbk.  Sebuah taman edukasi yang tak jauh dari Jakarta, tepatnya di  Desa Tajur, Citeureup, Kabupaten Bogor.
Bersama Aries Teguh Wibowo, Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) angkatan 1987, pengunjung akan diajak berkeliling taman edukasi. Pusat edukasi di lereng Gunung Hambalang itu dinamai Kid Geneer's.  “ Kid Geneer’s itu istilah untuk anak-anak menjadi engineer kecil,” kata Aries selaku Manajer Operasi taman tersebut. Namun di lingkungan sekitar,  kawasan wisata edukasi itu juga lebih dikenal sebagai Eduwisata Gunung Hambalang.
Awalnya taman eduwisata adalah program pelestarian lingkungan. Hal yang tentu serius digarap oleh setiap pabrik semen yang umumnya sering dituding terkait dengan pencemaran lingkungan. Di lahan seluas 10 hektar di Kampung Gonggo, Indocement pun membangun pusat edukasi tersebut pada tahun 2015. Setahun kemudian, pusat edukasi  sudah beroperasi  untuk umum.
Sebagai pabrik semen, tentu saja Indoment berkepentingan untuk mengenalkan proses pembuatan semen pada masyarakat.  Khususnya pada anak-anak. Miniatur pabrik semen yang berdiri di atas tanah seluas 500 m2. Terkait dengan program teknologi yang bernuansa lingkungan, dikembangkanlah cluster Taman Energy.  Berbagai macam sumber energi ditampilkan.  Antara lain berupa panel surya berukuran 60 x 120 cm sebanyak 6 set  terpasang untukmenyalakan lampu  memanfaatkan energi matahari.
Pengenalan energi  kinetik dilakukan dengan sepeda, yang saat dikayuh maka rodanya akan menggerakan dinamo untuk menghasilkan listrik. Dinamo serupa juga dapat menghasilkan listrik dengan tenaga angin dengan kekuatan rendah sekalipun. Yakni melalui baling-baling vertikal win energy yang terpasang di sana.

Sedangkan Picohydro Energy memanfaatkan tenaga  bersumber dari air terjun buatan. Yang penting dicermati tentu biogas yang mampu menyalakan generator listrik, kompor gas dan lampu petromax.
Pada biogas inilah aspek tekno dan agro berhubungan secara langsung karena  sumber energinya adalah kotoran sapi. Ya betul kotoran sapi. Indocement memenag memelihara sapi untuk kepentingan sosial seperti program Corporate Responsibility (CSR) maupun bantuan kurban bagi masyarakat sekitar, setiap tahun. Bukan hanya sapi yang dipelihara untuk menopang eduwisata itu, namun juga domba, ayam, burung puyuh, serta ikan.
Pengelolaan agro pendukung eduwisata itu dilakukan oleh Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) Hambalang. Lembaga yang telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada 2014. Kerjasama dengan berbagai insitusi juga dilakukan untuk pengembangan aspek agro di kawasan bekas tambang. Antara lain dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pengembangan eduwisata Gunung Hambalang itu sekaligus dikaitkan dengan program pembinaan masyarakat di 12 desa di sekitar lokasi. Antara lain melalui pelatihan budidaya sapi, domba, ayam, ikan, hingga burung puyuh.  Para pengunjung taman Eduwisata Gunung Hambalang tentu berkesempatan pula untuk belajar  mengenali ternak-tenak itu.

President Komisaris PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. & Istri. Berkenan meninjau peternakan burung puyuh di P3M Hambalang

Belajar memandikan dan memberi makan ternak, menangkap ikan, atau cuma menimang-nimang burung puyuh tentu merupakan pengalaman yang menyenangkan buat anak-anak. Apalagi sambil menikmati  bakso puyuh atau puyuh kremes di kedai yang dikelola masyarakat setempat.  Bagi yang ingin berswafoto, danau kecil di lingkungan Hambalang pun memadai  buat mendapatkan  sudut pandang menyegarkan.
Manajemen Indocement tampaknya paham betul.  Wajah mekanis dari sebuah industri, apalagi industri semen,  perlu dilembutkan untuk merangkul hati masyarakat.  Membangun pusat eduwisata berbasis agrotekno tersebut adalah cara merangkul hati yang tepat. (269)

Kredit Foto : Aries Teguh Wibowo
Share:

UPL UNSOED SIAP MENDAKI ACONCAGUA, GUNUNG TERTINGGI DI DUNIA



Ketua Kafapet Unsoed  BRJ (no 3 dari kiri) bersama Tim UPL Unsoed
Pada Rabu, 2 Mei 2018 panitia Ekspedisi Soedirman VII (ES VII) bersama Calon Atlet (Arizal, Wida, Reza dan Amanat) bersilaturahmi ke kediaman Ketua Umum Kafapet UNSOED Bambang Rijanto Japutra. Silaturahmi ini dimaksudkan  guna mensosialisasikan kegiatan ES VII yang akan mendaki ke salah satu gunung tertinggi di dunia yaitu Gunung Aconcagua di Argentina , serta mencari dukungan logistik untuk suksesnya misi pendakian ini. Panitia ekspedisi mengucapkan syukur dan terima kasih atas dukungan Kafapet Unsoed terhadap kegiatan UPL

Kepada kafapet-unsoed.com, Ketua Kafapet menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung cita-cita UPL untuk berprestasi di tingkat dunia. Ia berpesan agar tim pendaki  pantang mundur mengibarkan sang merah putih serta benderaUnsoed.

Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam atau disingkat UPL MPA Unsoed merupakan sebuah unit kegiatan mahasiswa di dalam lingkup Unsoed dan bergerak di bidang kepencitaalaman dan petualangan alam bebas. Sejak tahun 1990’an, UPL memiliki mimpi besar untuk membawa nama Universitas Jenderal Soedirman di atas tujuh puncak tertinggi dunia (Seven Summits of The World).

Impian itu kini sudah mulai menjadi kenyataan. UPL MPA telah berhasil melakukan pendakian tujuh puncak tertinggi dunia yang dimulai dengan pendakian Gunung Elbrus, Rusia (2005), Gunung Kilimanjaro, Tanzania (2009), dan Gunung Jayawijaya, Indonesia (2012) serta satu pendakian internasional lainnya yaitu Gunung Huascaran, Peru (2016). Setelah sukses dengan ketiganya, UPL MPA selanjutnya akan melakukan pendakian ke Gunung Aconcagua, Argentina pada bulan Desember 2018 dalam kegiatan yang bernama Ekspedisi Soedirman VII Soedirman Spirit on The Top of The White Sentinel.

Ekspedisi Soedirman VII selain melakukan pendakian di Gunung Aconcagua juga akan membawa misi pengenalan kopi Indonesia dan pengenalan budaya Indonesia. Kopi yang akan dibawa rencananya adalah Kopi Toraja, Kopi Wamena, Kopi Kintamani, Kopi Gayo, Kopi Luwak dan Kopi Sonya. Pemilihan kopi ini merupakan representasi dari wilayah – wilayah di Indonesia. Alasan pengenalan kopi juga berbanding lurus dengan tren kopi yang sedang mencapai klimaksnya sehingga diharapkan dengan pengenalan kopi Indonesia ke masyarakat internasional, akan berdampak pada ekspor kopi Indonesia.

Pengenalan budaya Indonesia rencananya akan dilakukan di KBRI Buenos Aires dengan materi pengenalan pariwisata Indonesia, pengenalan kesenian Indonesia, serta demonstrasi kuliner Indonesia. ***



Share:

Dr. Mulyoto Pangestu, PhD Dari Penyimpanan Sperma, Transfer Embrio, hingga Bayi Tabung



Menjelang siang, Selasa, 2 Mei 2018 itu, Dr. Mulyoto Pangestu, PhD melayani sejumlah wartawan di satu ruang pertemuan Laboratorium Reproduksi Fakultas Peternakan UNSOED. Dosen Fakultas Peternakan UNSOED yang sekarang menetap di Australia dan mengajar di Monash University tersebut sedang berada di Indonesia untuk waktu yang singkat, 10 hari. Pertemuan yang pada undangan pertama disebutkan pukul 09.00 itu akhirnya baru dimulai sekitar pukul 10.30. Mulyoto menyempatkan mengikuti peringatan upacara Hari Pendidikan Nasional di Kantor Pusat UNSOED, serta menemui pimpinan fakultas.
“Saya tidak mungkin berdiri meninggalkan ruangan sementara di situ pimpinan fakultas masih duduk,” kata Mulyoto yang hari itu mengenakan hem putih dengan lengan panjang yang dilipat mendekati siku.
Tubuhnya terlihat jauh lebih gemuk dibanding akhir tahun 90an ketika penulis melihatnya keluar dari ruang Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan. Pada saat itu Mulyoto yang sedang menempuh pendidikan S2 di Australia mengambil liburan pulang ke Indonesia. “Hasil” dari penelitian S2-nya itulah yang melambungkan nama Mulyoto sebagai ilmuwan. Ia meraih penghargaan bergengsi Young Inventors Awards dari The Far Eastern Economic Review pada tahun 2000.
Rambut Mulyoto juga sudah memutih semua. Meskipun demikian, tatapan mata yang tajam dengan senyuman yang ramah itu tidak berubah. Mulyoto terlihat benar berusaha memahami bahwa para wartawan yang mengerubutinya hari itu tidak semua berlatar belakang ilmu peternakan atau setidaknya memahami biologi reproduksi.
“Jadi gini, sapi perah itu tidak mungkin keluar susunya kalau tidak bunting,” katanya menjelaskan arti penting kebuntingan pada sapi perah.
Setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian para wartawan yang ditanyakan kepada suami dari Lies Lestari yang memilih tinggal di Australia salah satunya demi fasilitas yang memadai yang tersedia bagi penderita difabel. Karena penyakit spinal muscular atrophy sejak remaja yang diderita istri Mulyoto, ia harus menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya.

Dr. Mulyoto Pangestu, PhD


Penyimpanan Sperma Murah
Nama Mulyoto mendunia berkat penemuannya berupa teknologi penyimpanan sperma yang murah. Tahun 2000 ia mencari dan mempertimbangkan bagaimana menyimpan sperma yang efisien. Sejauh teknologi yang ada hingga saat itu, sperma, termasuk yang digunakan untuk inseminasi buatan, disimpan dalam tangki berisi nitrogen cair sebagai pendingin. Setiap minggu harus membeli nitrogen cair. Sementara itu, harga tangki juga tidak murah.
Didampingi supervisinya Jillian Shaw  dan pembimbing Alan Trounson, Mulyoto akhirnya menemukan bahwa sperma ternyata bisa disimpan dalam suhu ruang. Mulyoto melahirkan teknik penyimpanan yang efisien untuk sperma, yakni dengan alat tabung plastik dan aluminium foil sebagai pembungkus. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit.
Perkiraan biaya untuk metode ini hanya sekitar US 50 sen. Dari penemuan inilah Mulyoto mendapatkan penghargaan bergengsi Young Inventors Awards dari The Far Eastern Economic Review dan Hewlett-Packard Asia Pasifik.
“Cukup ditaruh di atas meja saja,” kata Mulyoto.
Ia menjelaskan, ide awal penelitian ini adalah adanya informasi bahwa beberapa sel bisa dikeringkan, dan lantas nanti hidup lagi. “Kita mencoba meniru perlakukan pada organisme itu. Kita coba sperma itu dikeringkan bisa tidak. Alhamdulillah hal itu bisa dilakukan,” kata Mulyoto.
Penelitian yang dijalani Mulyoto didukung oleh Monash University dan beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat. Pada tahap berikutnya, penelitian tersebut dilanjutkan oleh sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat tanpa melibatkan Australia. Mulyoto sendiri pernah ditawari untuk pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2004 untuk bisa ikut bergabung dengan proyek-proyek pengembangan teknologi penemuannya itu. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan Mulyoto memilih tinggal di Australia.
“Waktu itu ada beberapa pekerjaan yang menyita tenaga dan waktu saya. Pada sisi lain, istri saya tidak tahan menghadapi cuaca ekstrem di sana,” ungkap Mulyoto.
“Mereka berkembang jauh lebih baik daripada apa yang saya kerjakan tahun 2000. Termasuk teknis penyimpanan, packaging dan sebagainya,” tambah Mulyoto.

Bayi Tabung
Meskipun penemuan Mulyoto fenomal, pada kenyataannya ia tidak meneruskan penelitian lanjutan. Mulyoto malah sekarang fokus pada pelayanan bayi tabung. Bayi tabung yang dimaksudkan adalah bayi tabung pada manusia, meskipun pada sisi lain ia kerjakan juga pada ternak.
Sebagai Kepala Laboratorium Education Program in Reproduction and Development (EPRD) Department Obstetrics and Gynecology, Mulyoto menyiapkan para petugas pelayanan bayi tabung.
Menurut Mulyoto, ada banyak hal yang perlu dijelaskan oleh petugas kepada keluarga yang hendak memanfaatkan jasa layanan bayi tahung. Dalam catatannya, di Indonesia, pemahaman antara pasien dan klinik penyedia layanan bayi tahung di Indonesia masih sangat kurang. “Salah satu tugas saya memperbaiki pelayanan di sana,” katanya.
Mulyoto juga mengungkapkan tenaga embriologis masih sangat kurang. “Di Indonesia, dokter mungkin sudah ratusan. Tetapi tenaga pengolah embrio sangat terbatas. Tidak ada yang nganggur, meskipun permintaan banyak sekali,” ungkapnya.
Meskipun demikian, perbandingan jumlah pelayanan bayi tabung di Indonesia dengan di Australia terpaut jauh. Di Indonesia, tahun 2014 pelayanan bayi tabung masih di bawah 1000 layanan. Sementara di Australia dengan jumlah pendudukan yang lebih sedikit telah mencapai 50.000 layanan.
Tingkat keberhasilan program bayi tabung secara umum menurut Mulyoto mencapai 30%. Sementara biaya program bayi tabung di Indonesia antara 60 sampai 80 juta rupiah. Bagi pasangan suami istri di Indonesia, biaya tersebut terhitung mahal. Sudah biaya mahal, belum tentu jadi. Hal itu menjadi tantangan dan pertimbangan tersendiri bagi pasangan yang belum memiliki keturunan. Mereka yang baru menikah mungkin tabungan belum cukup. Sementara ketika sudah mapan, usia mereka sudah memasuki 40 tahun, permasalahan lebih kompleks. “Kalau saya, pasangan suami istri yang baru menikah, menjalani hubungan seks normal, tiga bulan belum ada tanda-tanda, sebaiknya periksa ke dokter,” kata Mulyoto.
Ayah satu anak ini mengungkapkan data perkembangan pelayanan bayi tabung di Indonesia yang meningkat pesat. Hingga tahun 2004 layanan bayi tabung masih di bawah angka 1.000 layanan. Ketika artis Inul Daratista mengikuti program bayi tabung dan mengungkapkan secara terbuka pada masyarakat pada tahun 2008, tahun 2009 pelayanan bayi tabung naik menjadi 1.000. Tahun 2017 dilaporkan ada 9.000 pelayanan bayi tabung.

Embrio Transfer
Di Australia, sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, Mulyoto bersama laboratoriumnya menyediakan embrio untuk para peternak. Hampir setiap dua minggu sekali Mulyoto pergi ke abatoar. Di situ Mulyoto mengambil ovarium dan ovum dari sapi-sapi betina yang dipotong. Ovum tersebut lantas dibuahi dengan sperma yang berasal dari pejantan yang bagus.
Embrio tersebut kemudian ditanam pada sapi-sapi perah. Dengan cara ini, Mulyoto membantu agar sapi perah bisa bunting.
“Begini, sapi betina itu bisa diperah kalau bunting, kalau tidak bunting tidak bisa diperah. Kalau bunting dengan pejantan yang biasa saja, akan mendapatkan anak yang biasa saja. Tapi kalau kita tahu embrio sapi potong, ketika lahir dia menjadi sapi potong yang bagus. Tetapi dengan teknik ini, sapi perah itu bunting anakan sapi potong. Ovumnya dari sapi potong, tetapi kita bisa beri sperma dari pejantan yang bagus. Maka ketika lahir, ada pedet-pedet yang lumayan bagus,” papar Mulyoto.
Dengan teknologi embrio transfer ini, diperoleh dua hal dalam satu langkah. Pertama, sapi perah yang bunting sehingga bisa memproduksi susu. Kedua, anakan sapi potong dengan kualitas yang baik.
Teknologi ini memungkinkan diterapkan di Australia. Di negeri Kanguru tersebut, seorang peternak bersekala kecil memiliki sapi setidaknya 500 ekor. Pada musim kawin (antara bulan September sampai Desember), dibantu seekor sapi pejantan yang menjadi pendeteksi berahi, petugas bisa menyelesaikan transfer embrio dalam dua minggu.
Menurut Mulyoto, teknik transfer embrio secara intensif tersebut akan kesulitan bila diterapkan di Indonesia. Jumlah 500 ekor sapi letaknya tersebar dan terserak di banyak tempat.
Meskipun demikian, Mulyoto menyebut ada satu sisi positif peternakan sapi di Indonesia. Dengan matahari yang stabil sepanjang waktu, memungkinkan sapi betina di Indonesia mengalami berahi sepanjang waktu. “Bila bulan ini gagal, bisa bulan depannya lagi,” tegas Mulyoto.
“Di Australia, kalau pada tahun ini gagal bunting, harus nunggu tahun depan. Tinggal peternaknya memutuskan, apakah mau dipotong atau menunggu,” tambah Mulyoto.

Share:

DOWNLOAD PROPOSAL PEMBANGUNAN MASJID FAPET UNSOED

Bagi Anda yang ingin membaca proposal lengkap pembangunan masjid Fapet Unsoed , silakan download dengan klik tombol bertulisan Proposal Masjid di layar halaman web ini, atau KLIK DI SINI 

Pembiayaan

Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid Fakultas Peternakan adalah sebesar Rp. 1.024.350.094 (satu miliar dua puluh empat jua tiga ratus lima puluh ribu sembilan puluh empat rupiah), sebagaimana tercantum pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diterima redaksi Kafapet-Unsoed.com. Sumber dana sepenuhnya berasal dari donatur.

Rekening untuk Donasi

Bagi yang berniat mewakafkan sebagian rezekinya dapat transfer ke Bendahara :

Rekening Bank Mandiri
Nomor. 1800001672619
a.n. Oentoeng Edy Djatmiko

Rekening Bank BCA
Nomor. 3580481123
a.n. Dattadewi Purwantini

Donasi Melalui Kafapet
Sumbangan pembangunan masjid dapat dilakukan langsung ke rekening panitia, bisa juga melalui pengurus Kafapet. Informasi dari Ketua Kafapet Jabodebeksuci Roni Fadilah, pihaknya juga menampung sumbangan dari  anggota Kafapet Jabodebeksuci melalui rekening bendahara Kafapet Jabodebeksuci

Bank BCA
no rek 6820199501 a/n Sri Anna Suryaningsih
Konfirmasi sumbangan, hubungi Sri Anna Suryaningsih hp 08777 03 444 61


Share:

Peletakan Batu Pertama Masjid Fapet Unsoed

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Rabu 2 Mei 2018, Dekan Fapet Unsoed Prof Ismoyowati melakukan seremonial peletakan batu pertama pembangunan masjid kampus Fapet.
Acara Peletakan Batu Pertama berlangsung pukul 10, dihadiri oleh  Para Dekan, Direktur, Ketua Lembaga, Kepala Biro di Unsoed, pada Dosen, karyawan, alumni, BEM, DLM dan perwakilan mahasiswa.

Rektor dan wakil Rektor tidak bisa menghadiri acara peletakan batu pertama di Fapet karena ada acara pelantikan Rektor baru Unsoed di Jakarta.


Acara  diawali  di Gasebo Fapet berupa pembukaan, laporan Ketua Panitia Pembangunan Masjid  Ir. Sigit Mugiyono, MSi., sambutan Dekan Fapet Unsoed   Prof. Dr. Hj. Ismoyowati, SPt, MP, serta tauziah dan doa oleh Ir. H. Muhamad Nuskhi, 

Kemudian acara dilanjutkan dengan Peletakan Batu Pertama  oleh  Dekan Fapet Unsoed Prof. Dr. Hj. Ismoyowati, SPt. MP di lokasi masjid yang akan dibangun.

Dalam sambutannya, Dekan menjelaskan latar belakang pembangunan masjid yaitu terbatasnya daya tampung mushola yang ada, sementara jumlah mahasiswa makin bertambah. Selain itu juga untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat kampus dan masyarakat umum.

 "Saya menyampaikan terima kasih kepada para donatur sehingga pembangunan dapat dimulai hari ini, dimana saat ini sudah tekumpul dana wakaf sekitar Rp 300 jt," ujar Dekan.

Selesai  acara,  Alumni Fapet angkatan 85 yang diwakili Ir. Sinung Nugroho dan kawan-kawan memberikan wakaf untuk pembangunan masjid Fapet Unsoed sebesar Rp 12.900.000,00 kepada Dekan Fapet. Sebelumnya Kafapet Jabodetabek, Kafapet Pusat serta para alumni secara perorangan juga memberikan donasi pembangunan masjid sebagaimana himbauan Dekan dan Ketua Panitia Pembangunan Masjid.

Kepada kafapet-unsoed.com, Dekan Fapet Unsoed mengucapkan terima kasih kepada alumni dan organisasi Kafapet yang membantu penggalangan dana. Ia mengharapkan para alumni Fapet berkenan terus menyisihkan rejekinya untuk wakaf sehingga pembangunan masjid dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu

Himbauan agar alumni Fapet ikut berkontribusi dalam pembangunan masjid juga dilakukan berulang-ulang oleh pengurus Kafapet di group whatsapps Kafapet. 

Rencana Peresmian Saat Dies Natalis

Sebagaimana diberitakan website ini beberapa waktu lalu, mushola Fakultas Peternakan Unsoed yang terletak diantara dua gedung di lantai dua kampus Karang Wangkal Purwokerto kini sudah tidak mampu menampung jumlah jamaah yang semakin bertambah. Tahun 2018 ini jumlah mahasiswa mencapai 1.800 orang dan sangat mungkin akan terus bertambah, apalagi selain program D3 dan S1, Fapet juga menyelenggarakan program S2 dan S3. Sementara itu kesadaran warga kampus untuk melakukan sholat berjamaah semakin meningkat. 

Maka melalui berbagai diskusi, akhirnya kampus Fapet bertekad untuk membangun masjid di lingkungan Fapet Unsoed. Dekan Fapet Prof Ismowati beserta jajaran pimpinan dan pihak terkait mengadakan serangkaian pertemuan dan akhirnya menunjuk Ir. Sigit Mugiyono. MS, salah satu dosen senior untuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid. Informasi yang diperoleh dari panitia menyebutkan, masjid yang akan dibangun menyesuaikan lokasi dengan luas 12 m x 12 m dengan dua lantai.

"Pembangunan tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit oleh karena itu kami mengajak para dermawan termasuk para alumni Fapet untuk berpatisipasi dalam pembangunan masjid tersebut dalam bentuk wakaf uang ataupun material," ujar Sigit.

Panitia menyampaikan, pembangunan Masjid Fapet Unsoed ditargetkan selesai Desember 2018. dan akan diresmikan pada 10 Pebruari 2019 bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Peternakan Unsoed ke 53.


Pembiayaan

Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid Fakultas Peternakan adalah sebesar Rp. 1.024.350.094 (satu miliar dua puluh empat jua tiga ratus lima puluh ribu sembilan puluh empat rupiah), sebagaimana tercantum pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diterima redaksi Kafapet-Unsoed.com. Sumber dana sepenuhnya berasal dari donatur.

Rekening untuk Donasi

Bagi yang berniat mewakafkan sebagian rezekinya dapat transfer ke Bendahara :

Rekening Bank Mandiri
Nomor. 1800001672619
a.n. Oentoeng Edy Djatmiko

Rekening Bank BCA
Nomor. 3580481123
a.n. Dattadewi Purwantini

Donasi Melalui Kafapet
Sumbangan pembangunan masjid dapat dilakukan langsung ke rekening panitia, bisa juga melalui pengurus Kafapet. Informasi dari Ketua Kafapet Jabodebeksuci Roni Fadilah, pihaknya juga menampung sumbangan dari  anggota Kafapet Jabodebeksuci melalui rekening bendahara Kafapet Jabodebeksuci

Bank BCA
no rek 6820199501 a/n Sri Anna Suryaningsih
Konfirmasi sumbangan, hubungi Sri Anna Suryaningsih hp 08777 03 444 61


Download Proposal

Bagi Anda yang butuh proposal lengkap, silakan download dengan klik tombol bertulisan Proposal Masjid di layar halaman web ini, atau KLIK DI SINI ***

Sumber foto: Panitia Pembangunan Masjid Fapet




Share:

Ketua Umum KAUNSOED Hadiri Pelantikan Rektor Baru

Haiban (kiri )bersama Rektor Unsoed 2018-2022 Prof Suwarto
Ketua Umum Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED) Haiban Hadjid, Kamis (25/4) menghadiri acara pelantikan Rektor Unsoed periode 2018-2022 Prof. Dr. Ir. Suwarto, M.S di Auditorium Gedung D Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Jakarta. Pelantikan dilakukan oleh  Menristekdikti Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak dihadiri para pejabat di lingkungan kementerian, termasuk para wakil rektor didampingi istri, sejumlah guru besar, dan pejabat struktural terkait, termasuk perwakilan keluarga alumni UNSOED.
Sebagaimana dikutip oleh unsoed.ac.id,  usai melantik, Menristekdikti berpesan agar rektor sebagai pimpinan perguruan tinggi untuk terus meningkatkan akreditasi program studi dan institusi serta peningkatan publikasi ilmiah. Menteri juga menyampaikan, sebagai pimpinan, rektor harus inovatif, kreatif dan mempunyai tata kelola perguruan tinggi yang baik.
Pelantikan Rektor Unsoed oleh Menristekdikti
Tidak hanya itu, kampus juga harus bersiap menghadapi era disruptif, khususnya yang terkait dengan digitalisasi dan kemajuan di bidang teknologi informasi. Hal tersebut haruslah disikapi dengan bijaksana agar perguruan tinggi mampu menanggapi tantangan zaman. "Salah satu cara bersiap memasuki era disruptif adalah dengan terus mengembangkan sistem infomasi akademis," ungkap Prof. Nasir.  Dalam kesempatan tersebut, Menristekdikti juga memberikan apresiasi kepada Dr. Ir. Achmad Iqbal, M.Si selaku rektor sebelumnya atas kinerjanya selama ini. 
Selain rektor UNSOED, dalam acara yang sama dilantik pula Rektor Universitas Siliwangi Tasikmalaya dan Koordinator Kopertis XIII Wilayah Aceh.
Ketua Keluarga Alumni Unsoed Haiban Hadjid mengharapkan rektor baru dapat lebih memajukan Unsoed. Pihaknya selalu siap bekerjasama demi kemajuan almamater. Beberapa usulan KAUNSOED antara lain tentang penyelenggaraan kembali LDK diharapkan dapat direalisasikan oleh Rektor baru.

Pemilihan Rektor

Sebagaimana diberitakan kafapet-unsoed.com (26/4), dalam rapat senat tertutup yang berlangsung di aula gedung rektorat Unsoed Purwokerto, Selasa siang hingga petang (24/4) Prof Dr Suwarto terpilih sebagai Rektor Unsoed periode 2018-2022.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Prof Dr Wardhana Suryapratama , dalam pemilihan rektor tersebut, Prof Dr Suwarto mendapatkan dukungan 60 suara. Dua pesaingnya, Prof Dr Mas Yedi Sumaryadi (dosen Fapet Unsoed) dan Dr Agus Nuryanto,masing-masing mendapatkan 28 suara dan 1 suara. 

Ia menjelaskan , proses pemilihan rektor diikuti oleh 58 orang dari 60 anggota senat yang ada di Unsoed. Dalam pemilihan rektor, dukungan yang diperebutkan tidak hanya dari kalangan anggota senat. Ada juga hak suara dari Kemenristekdikti yang ditetapkan sebanyak 31 suara. Sesuai ketentuan, hak suara dari kementerian berjumlah 35 persen dari jumlah suara senat. 

"Karena jumlah anggota senat Unsoed ada sebanyak 60 orang, maka hak suara Kemenristekdikti ada 31 suara," jelasnya. 
 (bams)***
Sumber Foto: Haiban dan web Kemendikti
Share:

Download Proposal Masjid Fapet

LINK BANNER

Daftar dan Dapatkan GRATIS E-book Biografi Jenderal Soedirman dan informasi penting lainnya

Nama Lengkap

Alamat Rumah/Kantor

Pekerjaan/Jabatan
Nama Perusahaan/Instansi

Tahun Masuk Fapet/SKS

NIM

No Handphone

E-mail address




Pengunjung Web

Undangan Temu Alumni

Artikel Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini